Rabu, 29 Mei 2013

Album Dokter

Saya, laki-laki, bekerja di Rumah Sakit Persahabatan sebagai seorang perawat. Saya dan dokter Donny sudah lama kenal, tetapi saya masih takut mengenal lebih jauh dan akrab, lantaran dia atasanku langsung. Dr. Donny masih hidup bujangan, wajahnya tampan… mungkin mirip Donny Damara aktor sinetron dan peragawan itu.
Saya sudah lama kagum dengan penampilan dokter Donny, dan selalu berimaginasi bahwa dia itu seorang gay, dan aku dengan senang hati mau melayaninya. Badannya tidak sekerempeng aktor Donny Damara… malah sebaliknya, dia sangat fit, kekar dan penggemar serta pemain basket cukup fanatik. Usianya sebaya dengan usiaku, sekitar 30-35 tahun.
Keahliannya sebagai internis membawaku ikut memeriksa peserta cek medik tahunan yang terdiri atas pejabat berbagai instansi pemerintah dan swasta cukup top… dan paling syurr bila pejabatnya dari generasi muda, yaitu para eksekutif muda yang begitu fit, enak dipandang dan berwajah rata-rata apik. Rumah Sakit Persahabatan memang cukup terkenal melayani kegiatan itu. Saya paling suka bila diajak memeriksa rektum alias anus para pasien. Dr. Donny dengan sarung tangan karet selalu mengantarkan para pasien dengan gurauan ringan untuk menghindarkan rasa jengah karena pasien harus mengangkang, bugil dan mengekspos silitnya untuk dicoblos dengan jari telunjuk kanan atau kiri milik Dr. Donny yang cukup besar-besar. 
Pernah, suatu saat, seorang pasien masih lumayan muda, usia di bawah 40 tahun, berwajah cukup ganteng agak gemetaran mengikuti tes rektum itu. Dia sungguh-sungguh tampak tersipu mengangkangkan kakinya dan membiarkan kedua pasang mata kami melihat dari dekat selangkangannya dan kontolnya yang aduhai besarnya dengan hiasan jembut yang tebal dan menjambung ke perut dan dadanya yang indah kekar penuh bulu. Bahkan jembut itu menutupi pula belahan bokongnya sehingga silitnya agak tersembunyi. Pasien itu bernama Indra. 
"Dok, saya malu…"
"Masak, nggak apa-apa. Cuma sebentar kok. Pula tes ini penting untuk menge-tahui apakah ada gejala ambeyen atau tidak pada anus Bapak," jawab Dr. Donny tenang.
"Tapi… apa tidak sakit. Dok ?" kilahnya lagi. 
"Coba saja…. Hemmh, barangkali malah…." seloroh Dr Donny.
Kata-kata itu begitu saja meluncur, membuat aku yang tegang mengintip dari punggung Donny jadi tiba-tiba makin ngaceng. Kontolku sudah ngaceng melihat Indra buka baju dan kemudian telentang, makin ngaceng lagi ketika dia mulai mengangkang dan menampakkan kontolnya yang rupanya juga sudah "agak" ngaceng atau memang besar dan agak kaku dalam keadaan normal. Kini, terasa ada tetesan basah di ujung kepala kontolku karena rangsangan seksual melihat adegan dan dialog gila ini. 

"Coba ya Pak… Nama Bapak siapa ?"
"Indra nama saya. Nama Pak Dokter ?"
"Ohh… saya Donny, dan ini asistenku.. Rudy."
Kulihat Indra melirikku sekilas dan memperlihatkan muka aneh, seperti sedang mengagumiku.
Saya tidak sedang lagi menyombong nih, muka saya dan postur saya bagus, mirip Advent Bangun lah, dan orang sering mengolok-olok saya dan Donny sebagai pasangan aktor di RS Persahabatan.
Bangga sih memang bangga, diasosiasikan dengan keaktoran di Indonesia yang notabene berarti cakep (Mana ada sih, aktor Melayu yang jelek… pasti kaliber Indojerman, macam Barry Prima, Reynaldi, Fathur, atau kalau cewek ya… Minati, Henny Purwonegoro, dan lain-lain.). 
"Terasa sakit, Pak Indra ?" tanya dokter Donny ketika jari telunjuk dan ibu jarinya menyusupkan tabung periksa berdiameter sekitar 1.5 cm ke dalam anus Indra. Tabung dari stainless steel ini sudah barang tentu telah diberi lubrikasi vaselin agar tidak membuat sakit berlebihan ketika dipenetrasikan ke dalam anus pasien.
Indra semula tampak takut dan memejamkan mata. "Ahhh… enggak Dok," jawabnya. 
"Rudy, tolong ambilkan handuk di kamar kerjaku," tiba-tiba Dokter Donny meminta saya ke kamar sebelah. Aku agak segan, tapi karena diperintah atasan yaa.. segera aku beranjak. Padahal aku lagi tegang menyaksikan tes anus yang merangsang seksku. Aku sebenarnya juga enggan, karena celanaku memang mulai basah……. 
Dokter Donny kemudian berucap lagi, " Pak Indra, segera akan saya korek bagian dalam rektum Bapak dengan telunjuk saya… Ditahan ya, kalau ada rasa sakit." 
Tiba-tiba saja, telunjuk kiri Donny yang terbungkus sarung tangan sudah nyelonong memasuki lubang tabung yang sudah membuka anus Indra, dan telunjuknya yang lebih panjang daripada tabung tes tadi mulai diusapkan melingkar meraba-raba permukaan dalam silit Indra. 
Indra tetap memejamkan mata dan dari rasa (pura-pura) khawatir, kini dia merasakan adanya rangsangan aneh yang menggelitik anus dalamnya oleh masuknya telunjuk Donny. Tanpa sadar Indra melenguh pelan, "Uhhhh….hemmm."
"Ya, Pak Indra…. Apakah sakit." 

"Ahhhh… enggak…" jawabnya pelan sambil melepas senyum berarti, yang tak akan mencurigakan bagi orang biasa. Tapi di hadapan Donny, senyum itu tak bisa terlepas dari pengamatannya, karena sejak tadi Donny memang sedang mengamati wajah Indra yang tampan yang lagi indah memejamkan matanya…….…
Ya, Indra memiliki sebuah wajah tampan idaman bagi Donny yang gila laki-laki, terutama yang sudah berusia matang alias setengah umur tapi masih tampak muda dan kekar.
Tangan Donny makin berani, kini bukan sekedar melakukan gerak usap melingkar, tetapi justru menyodok-nyodok ke depan-belakang yang sebetulnya sudah merupakan penyimpangan prosedur dalam tes ambeyen. 
"Yahhhh…. Hemmmmmmmmmm," desah Indra makin nyata dan keras. Dan kontolnya yang semula hanya setengah tegak kini betul-betul ereksi penuh tanpa dapat dibantah. Dokter Donny pun tanggap; dengan sigap ditariknya telunjuknya yang bersarung karet itu dari anus Indra dan segera pula tabung pembuka anus tadi dicabutnya cepat sampai berbunyi "plupppp". 
Indra segera melenguh panjang, "Ohhhhhh…. Sayang!!" Ada segumpal perasaan kehilangan dari semula merasa penuh terisi tabung dan telunjuk Donny, tiba-tiba terasa hampa begitu saja.
"Apa yang disayangkan Pak Indra…?"
"Dok…. Tadi enak…Ulang lagi dong."
"Ahh, pak Indra bergurau ya."
"Tidak Dok, aku serius nih…"
Tiba-tiba saja tangan kiri Indra menggapai ke arah selangkangan Donny dan merabanya dari luar baju jas dokternya. 
"Loh Pak Dokter…. anda… ?" 
"Ya.. ya.. Pak Indra…Saya…." Tergopoh Donny menjawab sekenanya untuk pertanyaan yang juga tidak jelas arahnya tapi jelas maknanya. Memang kontol Donny sudah tidak tahan berada dalam kungkungan celdalnya dan ngacengnya sudah begitu kentara mendesakkan benjolan nyata di celana panjangnya, tetapi untunglah hal itu masih dapat ditutupi dengan jas prakteknya. 

Namun tangan kiri Indra akhirnya berhasil mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi dengan kontol Donny.
"Dok… boleh aku…. Aku minta sesuatu?"
"Katakan saja Pak Indra, syukur-syukur saya bisa penuhi."
"Anu… bisa tes tadi diulang, tetapi tanpa ring logam yang dingin itu ?"
"Maksud Bapak, cuma dengan jari saya ?"
"Yaa… itu pun tanpa kaus tangan karet yang bikin pedih itu. Bisa, kan ?" 
"Ya, dengan senang hati Pak." 
Donny segera membuka sarung tangan karet dan kemudian memberikan vaselin di sekujur jari telunjuk kirinya dan dia segera membungkuk ke arah selangkangan Indra. Mulutnya dibuka dan bersamaan dengan masuknya jari telunjuk kirinya ke dalam silit Indra, mulut Donny mengulum kontol Indra yang ngaceng berat. Pada saat bersamaan, tangan kiri Indra meraba kontol Donny dan berusaha membuka kancing risliting celana Donny. Donny diam saja membiarkan usaha Indra menggapai kontolnya. Dan… berhasil!! Keluarlah kontol Donny yang 17 cm dan gede yang sudah ngaceng penuh. Tangan Indra otomatik mengocok-kocok kontol itu dengan lembut dan kadang membelai-belai kulit mahkota kepalanya, membuat Donny berkali-kali menggelinjang dan memperseru isapan atas kontol Indra dan mempertajam gerak maju mundur telunjuk kirinya yang mengentot silit Indra. 
"Ahhhh…. Enak Dok, sungguh enakkkkk …." Donny hanya bisa berkecepak-kecepuk, karena mulutnya penuh dengan kontol Indra yang berdenyut-denyut siap menyiram langit-langit mulut Donny. Tiba-tiba, suara Rudy yang lantang menggema di kesunyian. "Dok, sudah saya cari-cari, handuk Dokter tidak kutemukan. Saya sudah cek ke kamar periksa nomor 14 juga tidak ada." Donny sangat panik dan segera melepas kuluman mulutnya pada kontol Indra dan jari tangannya pun dicabutnya dari silit Indra. Donny cepat sekali merapikan jas kerjanya sehingga kontolnya yang ngaceng segera lenyap tak nampak. Tapi justru Indra yang paling tidak berdaya, karena kontolnya sudah hampir mencapai klimaksnya. Belum sempat dia berfikir lain, lava kenikmatan putih menyemprot dari kontolnya dan membasahi sekujur permukaan perutnya, diiringi desahan nafas lega, "Yahhhhh…… uhfffff…." Lenguhan itu menyertai semburan pejuhnya yang menyentak 5-6 kali denyutan. 
"Ada apa nihhh… ?" tanya Rudy.
"Pak Dokter…. ?" tanya Rudy bingung sambil melirik Donny karena Donny tidak segera menjawabnya.
"Eh… eh…." Itu saja ucapan yang keluar dari mulut Donny yang mukanya merah padam karena malu pada Rudy. Justru saat itu Indra membuka mata dan menyapa Donny, "Makasih Dok, kenyotan dan emutanmu enaaaak dehh!! Makasih berat nihhh" 

"Ini… ini… Dokter, apa yang terjadi ?" tanya Rudy. Donny terdiam, tetapi justru Indra yang menukas lantang, "Pak Rudy, Anda mestinya senang dong, karena punya dokter cakep di dekat Anda …… Aku malah sudah menjajal keahliannya, ternyata benar dia adalah pengemut kontol paling pandai dehhh…" 
"Huss…!" sergah Donny. Tapi Indra terus nerocos. "Ahh, Donny…. Kita jujur saja… Dokter juga merasa enak bukan, ketika kukocok tadi ?" Donny terdiam… 
"Dan Pak Rudy, coba aja pegang itunya Pak Donny… pasti masih ngaceng.." Rudy diam, Donny pun terdiam. Tapi mata Rudy melirik ke selangkangan Donny. Di sana, di balik jasnya… masih jelas tampak ada tenda (biru) menyembil tegar ….… Jelas pula, ada noda basah dari mazi (pre-cum) kontol Donny yang menempel pada jas kerjanya. 
"Pak… Pak Dokter… benar nih ?" tanya Rudy pelan pada Donny. Donny masih diam. Tapi mukanya kini menghadap ke arah Rudy dan tangannya tiba-tiba menggapai pundak Rudy, lalu segera mukanya didekatkan ke muka Rudy dan… dalam beberapa milidetik, keduanya sudah tenggelam dalam ciuman french yang begitu dalam dan mesra. Tangan mereka saling mengusap dada, lidah mereka saling berpagut, dan tangan mereka akhirnya menggerayangi selangkangan pihak lawannya, dan Rudy membuktikan bahwa kontol Donny memang masih sangat ngaceng dan kiranya sedang menanti isapannya. 
"Ehhmmm…." Sayang Indra mendeham, memecah keheningan penuh nafsu dari dokter dan asistennya yang lagi asyik masyuk merasakan suasana surgawi beberapa menit. Mendengar deheman Indra itu, keduanya baru tersadar dan berupaya memperbaiki sikap mereka dan menjadi profesional lagi. 
"Baik, Rudy, tolong bersihkan noda kotoran di perut Pak Indra dengan napkin kertas di samping jendela. Dan Pak Indra, tugas saya selesai sudah, silahkan Bapak berbaju lagi dan melakukan tes di kamar lain… Barangkali pas untuk periksa ECG sekarang.." kata Donny sambil bergerak ke wastafel, mencuci tangannya yang baru dipakai untuk mengentot silit Indra dan mengusap dada dan selangkangan Indra. Usai itu, dia meninggalkan Indra yang masih bugil dengan membuang pandangan mesra ke arah Indra dan mencolek kontol Rudy yang lagi terpana di samping Indra. 
"Pak Rudy, tolong ambilkan baju piyama saya bisa ?"
"Ohh… ya pak, dengan senang hati," sahut Rudy.
"Bisa saya bentu kenakan, Pak Indra ?"
"Ohhh… dengan senang hati." 
Sambil memakaikan piyama Indra, Rudy berupaya menanyakan pada Indra, apa yang telah terjadi selama dia disuruh mengambil handuk. Indra tidak menjawab, tetapi melingkarkan pelukannya pada tubuh Rudy yang gempal dan berotot dan mereka pun segera tenggelam dalam ciuman mesra nan panjang…. 
Sejak itu, ketiga orang itu sering saling kunjung untuk menjajal kedigdayaan mereka secara sebenarnya di ranjang. Bahkan program three in one yang hendak dihapuskan dari bumi DKI Jaya, oleh mereka justru merupakan menu paling favorit untuk senantiasa dipraktekkan.

siswa yang kudambakan

Aku mengajar di salah satu sekolah swasta terkenal di Jakarta. Sejarah adalah bidangku. Walau banyak yang mengatakan ini adalah pelajaran yang membosankan, menurutku justru adalah tugas gurulah yang seharusnya membuat suatu mata pelajaran itu terlihat atau terdengar menarik.
Saking menariknya, banyak anak muridku yang tidak ingin cepat – cepat menghabiskan waktu di mata pelajaran ini (termasuk gurunya dong). Mungkin karena didukung dengan latar belakangku yang sudah banyak berpergian dari 1 tempat ke tempat lain.
Walau banyak muridku yang sudah pergi keluar negeri, namun yang sedikit saja yang menaruh perhatian pada hal – hal seperti ini. Tidak seperti yang lain, Michael sangat menyukai akan sejarah (dan saya juga menyukainya. Oppss.). Terkadang di dalam kelas, saat murid – murid sedang mengerjakan tugas kelompok, mataku hanya tertuju padanya.
Michael termasuk anak yang standard sebenarnya, namun ada hal yang membuatku menaruh perhatian besar. Secara fisik, bisa dibilang badannya cukup tinggi (175cm) dengan berat sekitar 65kg dan dada dan perut yang ‘jadi’. Chinese, bermata sedikit besar dan kulit sedikit kecoklatan (mungkin karena keseringan berenang kali). Sedang aku sendiri adalah keturunan dari Manado. Usia kami hanya terpaut 7 tahun.
Suatu hari, di saat jam kosong, ia berada di dalam kelas sedang tiduran. Dalam pikirku, “Andai bisa kucium bibirnya yang merah itu.” Akhirnya aku masuk ke dalam kelas dan ia bangun.
“Enggak keluar bareng yang lain?” Tanyaku.
“Enggak ah, Lagi males, pak. Enakan di kelas.”
“Bosen ya? Atau mau dibacain cerita sejarah lagi?” Tanyaku mengambil salah satu titik kelemahannya. (Jahat enggak sih?) Kita lalu membahas tentang sejarah – sejarah eropa yang sederhana yaitu Revolusi Perancis.
“Rasanya enak ya hidup seperti itu, tiap hari berpesta ria, bergelimpangan dengan makanan, minuman, cewek..” Jelas Michael.
“Loh, kasihan dong yang cewek. Masa enggak ada cowoknya?” Candaku.
“Iya juga ya. Enggak cowok, enggak cewek pasti foya – foya tuh di istana.”
“Pastinya. Disitulah kenapa ada issue juga mengenai hubungan sesama jenis di kalangan istana.” Pancingku.
“Masa iya sih? Tapi mungkin juga sih, pak. Namanya juga pesta kan? Kadang mabuk pun mereka juga tidak menyadari apa yang mereka kerjakan.” Jawabnya.
Aku cukup terkejut dengan jawabannya yang seperti itu. Aku berpikir apakah mungkin ia juga menyukai sesama jenis? Tapi aku juga tidak berani berbuat apa apa. Yang bisa kulakukan adalah membuka topik mengenai gay dan melihat reaksinya. “Topik yang menarik.” Kataku. “Ya, sayang dah bunyi bell nya.” Tanpa membuang kesempatan, “Bagaimana kalau kamu ada waktu kamu ke rumah bapak aja biar bisa luangin waktu untuk ngomongin mengenai topik itu dan sejarah – sejarah lain?” Tak kusangka ia menyutujuinya.
Sabtu tiba, ia datang dengan membawa mobilnya (maklum dah kelas 3 sma dah mau tamat lagi. Nyetir sungguh tidak dilarang). Tak kusangka ia datang dengan tiba – tiba sesaat aku baru selesai berolah raga. Dengan kaos yang basah karena keringat dan celana super pendek tanpa celana dalam, ia mengejutkanku sekaligus senang.
“Pagi banget, Michael. Bapak baru olah raga nih. Belum apa – apa.” Jawabku sambil melihat bulu – bulu kakinya yang menggoda. Ia datang mengenaka pakaian junkies dan celana Bermuda. Rasanya saat itu ingin kupeluk dengan erat dan kucium.
“Masuk dulu deh. Bapak mandi dulu ya. Just make yourself comfortable. Itu diatas lemari ada buku – buku mengenai topik yang kita bahas waktu itu.” Aku sengaja membuka pintu kamar dan kamar mandiku sedikit agar ia bisa mengintip (nakal ya?). Setelah selesai mandi, aku keluar dengan mengenakan handuk saja. Sengaja kubiarkan demikian dengan harapan ia bisa terpancing.
Sesekali ia melirik lalu bertanya, “Bapak enggak takut masuk angin ya?” “Enggak lah. Enggak ada angin juga kan disini. Gimana? Dah baca bukunya?” Aku langsung mengganti topik.
“Ya, sedikit. Ternyata di kalangan kerajaan juga banyak yang seperti itu ya?” Jawabnya. “Jangankan di Eropa. Di China aja, dulu kaisar juga banyak kan yang seperti itu sama kasim – kasimnya?” Jelas aku.
Setelah cukup lama, aku tidak tahan lagi melihat Michael dengan keseksiannya. Aku lalu mendekatinya. Sambil berbicara mengenai topik itu di sampingnya, aku sesekali memegang pahanya. Ia tidak menjauh ataupun merasa geli. Aku lalu menatapnya dan ia berkata, “Pak, kenapa lihat aku seperti itu?”
“Michael, bapak ingin jujur ama kamu. Tapi kamu jangan marah atau tersinggung ya. Bapak harap kamu mengerti keadaan bapak. Sepertinya bapak suka kamu.” Akhirnya kalimat ini keluar dari mulutku juga.
“Aku tahu kok, Pak. Dari tadi bapak sepertinya ngeliatin aku terus dan pegang – pegang paha aku. Terima kasih sudah mau jujurnya.” Jelasnya. Tak kusangka, selain ia menjawabnya seperti demikian, ia lalu mencium pipiku. Aku lalu membalas ciumannya di bibir.
“Michael, ini rahasia kita aja ya?” “Iya, tenang aja, pak. Aku juga enggak mau ada yang tahu kok.” Aku langsung menciumnya ia kembali sambil membawanya ke kamar tidurku. Badan kami berdua jatuh di atas tempat tidurku. Aku berdiri sebentar sambil membuka handuk yang kukenakan.
Aku lalu memeluk Michael kembali sambil kubuka satu per satu baju dan celananya. Ia mengenakan celana dalam yang ketat ternyata. Aku lalu menciumi tubuhnya yang halus itu dan mengigit pentilnya. Begitu hendak kubuka celana dalamnya, aku langsung menciumku sambil memainkan kedua pentilku.
Perlahan lahan aku menurunkan celana dalamnya yang berwarna hitam. Gleg, itu adalah penis yang kudambakan selama ini: panjang, tidak gemuk, dan tidak disunat dengan kulup yang sedikit panjang. “Wow, Michael, penis kamu indah banget. Ini yang aku suka.” Aku lalu membuka kulupnya sedikit. Ia menggelinjang kenikmatan. Tadinya kupikir dengan sensitifnya seperti itu, kontolnya pasti jarang dibersihkan tapi ternyata tidak. Begitu kuoral, ternyata masih ada bau sabun yang menempel.
Aku terus memainkan kulupnya karena saking gemesnya. “Suka ya, pak?” “Jangan panggil bapak ya. Panggil nama aja deh. Astaga, Michael…kalau tahu dari dulu kalau kontol kamu seperti ini, mungkin dari dulu aku sudah mulai ambil action duluan kali.” Aku melanjutkan mengoralnya kembali.
Setelah sekian lama, aku mencium bibirnya sambil mengocok kontolnya. Michael juga mengocok kontolku yang sudah disunat dengan precumnya. “Ahh, Mich, enak banget kocokan kamu. Enggak nyangka kamu pinter gini.” Ia hanya tersenyum sambil menciumku.
Tak lama, ia duduk diatasku dengan inisiatifnya sendiri. Ia menggengam kontolnya dan kontolku dan mengocoknya bersamaan. Aku memainkan pentilnya sesekali yang berwarna merah keunguan. Aku lalu mengenggam kontolnya dan menarik kulupnya hingga keatas. Terlintaslah suatu ide dalam pikiranku.
Kubisikan Michael. “Michael, pakai kulup kamu dan bungkusin kepala kontol aku dong.” Michael menuruti permintaanku. Setelah berusaha berulang kali sepertinya agak susah dan ia sedikit kesakitan. Akhirnya aku hanya mengocoknya saja. Tak lama ia terlihat ingin mencapai puncaknya. “Chard, (nama aku Richard) aku mau keluar nih.” Walau tadi kesusahan, ia berusaha lagi untuk ‘menyenangiku’. Ia mendempetkan kepala kontolnya dengan punyaku lalu mengocoknya sambil menarik kulupnya hingga membungkus kepala kontolku. Walau tidak sepenuhnya, akhirnya bisa sedikit dan disitulah kulihat cairan putih yang kental keluar dari kulupnya yang setengah membungkus kontolku.
Tak lama ia menciumku lalu mengocok kontolku dengan cairannya yang masih hangat. “Chard, oh yeah…keluarin ya…ayo…” Aku pun memuncratkan pejuku dan mengenai dadanya sedikit.
Kami berbaring kelelahan. Kami tidak berkomitmen tapi menjadi teman yang sangat baik. Sayangnya, setelah kelulusan sma, ia melanjutkan kuliahnya di Amerika. Walau kita berpisah, tapi kita masih terus berhubungan lewat email. Setiap kali ia pulang ke Jakarta, ia pasti sesekali menginap di tempatku dan pastilah terjadi hal-hal yg kmi inginkan.

Ayah Tiriku

Namaku sebut saja deh Nando, nama yang keren kan? Sekarang aku sedang bingung akibat Papaku yang seksi itu loh, agaknya memang dia rada-rada biseks gitulah, soalnya dia masih tidur sama Mama tetapi dia juga sering mengajakku berfantasi "syurr" dengannya. Pekerjaanku setiap hari selalu dan selalu merenungi nasib, duh pusing aku jadinya. Ini semua salah siapa sebenarnya? aku tak tahu, apakah ini salah ayah tiriku ataukah salah Mamaku yang selalu memgabaikan aku. Dan agaknya akhir-akhir ini Mamaku selalu hanya akrab dengan Papaku, sebenarnya aku agak cemburu sih kalau melihat mereka sedang berpelukan, berciuman, ah pokoknya membuat iri.


Seperti biasa aku selalu merenung, paling-paling aku hanya melamun setiap hari di depan pintu atau seringkali aku surfing internet teknologi yang satu ini memang membuatku tergodasetiap harinya aku selalu melihat situs situs porno di dunia maya ini. Dan karena aku tertarik iklan situs gay yang terkenal maka suatu hari aku subcribe. Wah, isinya komplit semua. Dari yang Asia sampai yang selalu bikin "horny" aku, yaitu cowok cowok bule.

Saat inii aku duduk di salah satu bangku sekolah di sekolah favorite yang megah, tetapi itu tidak membuatku senang apalagi gembira, karena Ayahku tercinta telah tiada. Mungkin juga akibat Papa kandungku telah meninggal makanya dimulailah petualangan seruku di dunia gay yang panas ini.

Sampai suatu hari Mama memutuskan untuk menikah dengan seorang pria, aku sungguh terkejut mendengarnya dan sekaligus tidak menerima akan hal ini.
"Ma, aku tidak setuju Mama menikah lagi, Mama udah lupa apa yah sama Papa?" tanyaku.
"Kamu harus punya ayah nak, Mama sudah tak sanggup terus bersedih hati," Mama membalas kata kataku sambil memohon dengan tangan nya.
Aku bersikeras untuk tidak menanggapinya, oleh karena itu aku melakukan aksi demo dengan cara diam alias tutup mulut sampai kira-kira beberapa hari lamanya.
"Ma, sekali lagi aku mohon Ma, jangan lupakan ayah Ma!"
Agaknya kata-kataku tidak didengarnya.

Selang beberapa hari kemudian ketika aku pulang sekolah mataku terbelalak ketika di meja dapur tergeletak secarik kertas undangan. Oh tidak, ternyata itu adalah kartu undangan perkawian antara Mama dengan seorang laki-laki bernama Andrew. Mataku berlinang air mata dan suaraku mendadak terdiam seperti melihat hantu saja. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Begitu malam harinya Mama sepeerti biasa pulang kerja.
"Mah, Mama masih nekat yah? Yah sudah lah Nando nggak mau lagi ngomong sama Mama lagi!"
"Terserah kamu Nan, Mama juga sudak capek mendengar rengekanmu."
Sejak hari itu aku tidak pernah bicara, tatap muka, ataupun sekedar berpamitan sekolah. Pas hari perkawinan Mama, aku sengaja minggat ke rumah nenek di Jakarta Barat. Berangkat sekolah pun aku juga berangkat dari rumah nenek.

Karena aku sangat kangen ke rumah apalagi dengan komputer kesayanganku itu, karena dengan komputer itu hobi-hobiku menyelusuri situs gay terpenuhi. Kayaknya aku sedikit "mupeng" kalau tidak sedikit melihat-lihat sesuatu yang berbau gay dan cowok-cowok seksi di internet. Apalagi yang berbau bau cowok bule yang seksi. Karena sangat kangen seminggu kemudian aku pulang ke rumahku yang nyaman. Hari sudah malam tetapi Mama dan suaminya belum pulang juga dari kantornya.

Terdengar suara mobil, tetapi aku tidak menghiraukannya, apalagi melihatnya, aku teruskan pekerjaan rutinku yaitu meng-update website-ku tentang gay karena pekerjaan ini sangat mengasyikan, dan pekerjaan ini rutin kulakukan setiap minggu, sambil update aku juga biasa berjelajah ke situs gay lainnya. Sampai tiba-tiba pintu terketuk dengan pelannya, "Nando kamu di dalam kamar yah?" Terdengar suara yang halus tapi seksi seorang pria tetapi tidak kugubrisketukan itu dan belum kubukakan pintu karena aku masih men-download picture gay.

Sesosok pria ganteng melangkah masuk ke ruanganku dengan suara langkah-langkahnya yang cool-lah pokoknya. Kulihat dari monitor komputerku yang memamtulkan cahaya lampu kamarku sesosok pria jantan berbodi "hot" membuatku "horny", lalu disketku yang penuh dengan foto-foto bugil itu kukeluarkan dari floppy-nya, yah isinya sudah bisa ditebak, yaitu file gambarcowok bule yang lagi "naked". Maksudku adalah inginku upload ke site-ku itu.

Tiba-tiba aku dipeluk seorang pria yang berbadan kekar dan berbau harum parfum yang sangat membiusku, dari kemejanya yang sudah tipis itu kulihat bahwa dia berbulu dada yang lebat, dan tiba-tiba sambil menciumku, dia berkata,
"Jadi ini anak Papa yah? cakep juga yah."
"Teruskan bermain komputer biar pinter yah!"
"Biar pintar?"
"Papa ke kamar mandi kamu yah soalnya air panas di kamar mandi sebelah sedang rusak."
Hah! mimpi apa aku semalam di rumah nenek? Papaku begitu ganteng, gumamku. Sejenak aku melihat ke sekitar ruanganku. Hah! Papa sedang mandi tak menutup pintunya, tetapi dia tetap santai tak menganggapku. Badannya yang kekar berbulu dan yang penting lagi "barang ajaib"-nya yang kata orang di bilang "kontol" dia usap-usap dengan sabun mandiku yang ada di kamar mandi sekaligus kamar masturbasiku setiap hari, terang saja batang kemaluannya itu bereaksi dengan cepat.

Oh my God! besar sekali sekitar 23 cm. Tampak dari kejauhan batang kemaluannya yang berwarnaputih ke coklatan lalu dia selesai mandi, dengan dibalut dengan handuk ku yang tipis, ia melangkah ke depanku dengan PD-nya, karena wajar saja dengan bodinya yang hot itu semua orang pasti tambah PD, padahal aku yang sedang download gay movie, datang dari belakangku langsung memelukku.
"Hah, kamu ini sedang apa Nando?" tanyanya.
"Papa nggak percaya, kamu ternyata.."
Tapi entah kenapa dan bagaimana Papa ikut melihat film yang selesai ku-download. Sungguh film yang hot membuatku terbakar dengan fantasi-fantasi yang tersirat pada film itu. Tiba-tiba telingaku terasa basah dan rasa-rasanya ada sebuah benda berdaging yang basah bergerak membuatku tambah nafsu berat. Lalu Papaku dengan suara lembut nan seksinya berkata,
"Sini kamu Papa ajarin, gini-gini Papa dulu juga pernah kayak kamu waktu Papa sekolah."

Seperti pemerkosa, tiba-tiba Papaku memelukku dengan dadanya yang bikin "horny", lalu diciumnya dan dikulumnya mulutku yang kata teman-temanku "cute" ini. Oh suck, dia mengurut-urut batangannya. Dijilatinya bajuku, wah padahal aku masih berpakaian lengkap loh! Daerah sekitar putingku dijilati hingga baju kubasah oleh air liur nafsunya. Tangannya mulai masuk ke bajuku dan membelai-belai dan menggesek-gesekkan tangannya ke puting dadaku. Akibat tak sabar maka dia membuka perlahan bajuku, celanaku. sampai tertinggal CD saja di kulitku.

"Nando ayo donk, gimana sih udah diajak Papa juga!"
"Papa kok.."
Aku terbelalak mendengar perkataannya yang mengejutkanku, ternyata di balik badannya yangseksi itu ternyata dia pernah jadi gay waktu muda dulu.
"Udah nikmatin aja yah nak."
Dia langsung menyerangku, dia mencari-cari puting dadaku, lalu dia menghisap dan menjilatinya, dan aku mengerang-ngerang tak tahan merasakannya, segera dia meraba CD-ku yang sudak sesak dengan batangan 18 cm yang sudah tegang dari tadi dan kayaknya juga sudah dibanjiri precum=ku yang bening. "Ah.. Ah.. terus Pah." Kuarahkan semua nafsu dan darahku ke batang kemaluanku agar batang kemaluanku menjadi tegang dan keras seperti ujung rudal. Dia makin menjadi-jadi dan akhirnya menghisapku dengan kuat.

"Papa, Nando pengen punya Papa donk!" Dia mengangguk lalu kami berganti posisi "69". Nikmatsekali rasanya, kujilati batangannya yang berbulu lebat sekali, dengan sesekali kukocok lalu kuhisap lagi. Papaku mengerang, "Arrgghh.." karena dia sudah tegang dengan kerasnya lalu diaberkata, "Nando, Papa mau masukin kamu yah?" Langsung saja kemaluanku dilumuri dengan ludahnyayang mengalir deras seperti liur serigala kelaparan, dan tiba-tiba tangannya memainkan jarinya ke anusku agar tidak sakit nantinya..

Selanjutnya sebuah batangan keras dan panjang juga tebal menembus anusku "Ah.. Papa.." Rasasakit luar biasa meliputi tubuhku, tetapi Papa tidak memperhatikan mimik mukaku yang sudah capai menahan batangannya yang gajah itu. "Pah, Nando capek Pah." Dia terus bergerak maju mundur menikmati anusku yang sudah mekar akibat batangannya. Kucoba dengan menikmati goyangannya yang agak "Hardcore" itu, dan sesekali kukocok kemaluanku. Sampai tiba-tiba keluar rasa nikmat yang tak tertahankan, "Pah Nando mau keluar Pah," Tiba-tiba batanganku menegang keras sekali dan "Crot.." batanganku tiba-tiba mengeluarkan cairan putih yang kental sekali dan kuarahkan sangat banyak ke muka Papa. "Pap, Nando ada hadiah nih, aargh.." Ah, rasanya seperti terbang ke awang-awang, "Nando kamu ternyata jagu semprot yah," dia malah senang sekali kelihatannya.

Papa terus goyangkan badan sampai sesaat batangannya menegang tinggi langsung gerakannya menjadi-jadi layaknya lokomotif kereta api dan dicabut dari anusku "Ahh.. Crot.." batangannya mengeluarkan sperma yang basah, dan ternyata dia membalasku. Dia membalasku dengan menembakannya ke arahku tepat di wajahku.
"Ahh.. Nando Papa bener khan, Papa juga bisa."
"Iya Pap, mulai sekarang Nando jadi anak Papa deh."
Setelah itu kami saling berpelukan tanpa busana sedikit pun. Sesaat setelah kami melepas lelah masing-masing kemudian aku menariknya kembali untuk minta mengulanginya lagi. Kami dua kali melakukanya sampai terkuras semua nafsu kami semua.

Diawali dengan meminum obat berlabel Viagra yang tersimpan di saku celana Papa. Seperti anjing kami melakukan dengan terburu-buru mengingat waktu sudah menunjukan bahwa Mama sebentar lagi pulang. Tetapi dengan nafsu yang makin membara dan membakar tubuh kami. Papa melumuri diriku dengan "gel" yang hot habis deh pokoknya. Dan dia melakukan hal yang sama dengan tubuhnya. Oh my god, "gel" ini membuat badanya menjadi super "macho", dan tanpa adagan kulum mengulum langsung saja dia memintaku menungging dengan posisi pantatku di depan batang kemaluannya.

Setelah setengah jam bergerak maju mundur akhirnya kejadian paling hot terjadi lagi."Ahhgg.. Crot.." batangannya meledak-ledak dengan peluru cairnya yang hangat itu. Kami rasa nafsu kami benar-benar habis untuk kali ini, Papa mengambil nafas lega. Oh, aku seperti di surga.
"Pap besok ajarin Nando lagi yah, abis gede banget sih."
"Iya deh."
Lalu Papa memelukku erat-erat. Sejak saat itu aku dekat dengan Papa. Setiap hari kami melakukan hal itu karena kami sama-sama hiperseks. Kami haus akan seks untuk setiap hari. Dan agaknya jadilah aku anak Papa bukan anak Mama lagi, sampai sekarang aku masih terus diajari oleh Papatanpa sepengetahuan Mama, dan kami jadi semakin dekat dan akrab. Oh Papaku Andrew yang kusayang selamanya.

Sepertinya Papa kandungku sudah mengirim gantinya agar membuatku bahagia dan tidak menderita seperti yang dikatakan orang lain, biasanya Papa tiri adalah galak dan sadis. Tapi toh buktinya Papaku Andrew sangat menyenangkan, baik hati dan sekali lagi, dia juga pasanganku yang seksi.Mungkin bila Mamaku tahu aku akan di marahnya. Oops I did it again Mom Sorry!

outdoor sex

Matahari hangat mengiringi langkah sam dan ron menuju kebun apple.Sesuai rencana mereka berdua akan memanen buah apple yang sudah matang dan siap untuk dijual.Kebun ini sebenarnya milik keluarga sam dan telah diwariskan padanya.Kini ia dan ron yang mengelola kebun itu.
"cukup banyak panen hari ini"kata ron
"ini masih sedikit dari pada bulan lalu"bantah sam.Mereka pun kembali melanjutkan kegiatan mereka sambil bercakap-cakap.Tiba-tiba ron ingin kencing.
"sebentar aku ingin ke belakang"kata ron sambil berlari menuju ke balik pohon apple terbesar.Tiba-tiba nafsu sam bergejolak.Ia ingin melihat seberapa besar ukuran kontol ron sahabat yang sudah di anggapnya keluarga itu.Sam memang sudah mengetahui sejak lama jika Ron adalah gay.Kini ia memberanikan diri untuk mendekati ron.Terdengar suara gemericik air kencing ron yang mengenai dedaunan yang kering.Ia pun mengintip dari balik pepohonan didepan ron.Tampak begitu jelas ukuran kontol besar nan panjang serta bersih dari jembut dihadapannya.Ia pun melihat ron memainkan kontolnya sebentar,hal itu membuatnya semakin bergairah.Sam memberanikan diri untuk mendekati ron.
"hei"kata ron dengan nada terkejut.Ia belum sempat memasukan kontolnya ke dalam celananya lagi
"sorry bro.Lama banget lo"kata Sam sambil mencuri-curi pandang ke arah kontol ron
"eh kenapa lo mandangin kontol gua...?"tanya ron
"emmm"kata Sam.Ia pun mendekati Ron "Gua suka sama lo" kata sam kemudian melumat bibir ron.Sam pun kemudian berlari menjauhi ron.Ia takut ron akan marah.Tanpa diduga-duga ron justru mengejarnya dan membalas ciuman itu dengan mesra.Dengan cepat ia membuka baju Sam.Dan basa basi lagi Ron langung jongkok untuk mengoral kontol sam yang masih lemas.Ia menjilat'nya,mengulumnya dan memainkanya di mulutnya.Hal itu membuat sam merem melek.
"sssssss aaaaaahhhhhhhh"desah sam.

Ngentot di rumah tua

sebuah tenda berdiri di halaman belakan rumah tua.Rumah itu sudah hancur hanya tersisa beberapa bagian saja.Seseorang pun keluar dari tenda itu dengan keadaan tak bercelana.Begitu jelas terlihat kontolnya yang masih ngaceng itu.Lalu seseorang muncul berikutnya dengan keadaan sama,dengan ukuran kontol yang sama dan tanpa jembut.
"nick,kau sudah bangun"sapa pemuda yang pertama
"tadi malam nikmat bagai disurga"sambung pemnuda kedua."jose i love you"kata nick.Nick yang saat itu masih tanpa celana mendekati jose.Mereka berciuman mesra sementara itu kontol mereka saling beradu.Tangan jose memegangi kontolnya dan kontol nick dan mengocoknya bersama.Setelah berapa menit kemudia mereka berhenti berciuman dan memakai celana mereka.Nick pun menyiapkan makanan untuk sarapan sementara jose pergi ke bangunan rumah tua yang ada didepanya itu.Entah ia mau apa tapi ia membawa serta handycame.Ia menuju ke sebuah bagian rumah itu.Bagian itu sepertinya bekas gudang atau semacamnya sebab bagian itu sangat terlindungi dinding beton kecuali bagian belakangnya.Jose pun menuju ke pojokan ruangan itu,dan bersandar pada sebuah kayu besar.Ia pun membuka resleting celananya dan mengelurkan kontolnya yang besar itu dan mulai mengocoknya lagi.

sementara itu nick sudah siap dengan masakanya mencari-cari jose.Ia pun menemukan jose yang sedang mengocok kontolnya sambil dividio.
"nick ayo kesini dan lepas celanamu"kata jose.
"tampaknya kau masih belum puas"sambung nick.Ia pun melepaskan kembali celananya itu.Kini terlihat kontol besar yang masih tertidur.Jose pun memegangi kontol nick dan mengocoknya kemudian mengulumnya.
"ahhh ahhh ahhh"desah nick sambil menyodok-nyodok mulut jose.Karena kontol nick terlalu besar jose harus berusaha lebih keras untuk mengulum kontol itu.Setelah agak lama kontol itu pun bangun.Mereka kemudian berciuman mesra.
Tiba-tiba seorang pemuda yang sebaya dengan mereka pun datang.Ia sedang memotongi rumput dengan gergai mesin.Namanya Scoot,ia melihat ada tenda disana dan tak ada penghuninya.
Sementara itu nick bersiap menancapkan pedangnya di anus jose.Ia membasahi kontol dan anus jose dengan air liurnya.Jose pun menhadap ke tembok dengan posisi dogy style.Dan "blesss"kontol nick pun masuk dan ia mendorongnya perlahan-lahan.Scoot pun datang dan melihat aksi mereka.Nick mempercepat gerakanya dan membuat scoot bergairah.Ia pun melepaskan celananya dan CDnya kini kontolnya keluar,Lebih besar dari pada nick dan jembutnya tebal.Ia pun mendekati jose dan menyodorkan kontolnya.Jose dengan cepat mengulum kontol kuda itu dengan cepat.Kontol itu pun bangun wauuooo ukurannya tambah besar.Scott menyodok mulut jose dengan kontolnya itu,dan ia berciuman dengan nick.Nick pun melanjutkan aksinya mempercepat gerakan kontolnya.Maju mundur maju mundur,kadang ia goyang-goyangkan kontolnya dalam anus jose."ahhh ohhh ohhhhhh"desak jose saat kontol nick mengelurkan mani didalam anusnya itu.
Kini scoot berganti posisi ia membelakangi nick.,sementara itu jose masih tetap menikmati permainan nick.Scoot mulai membasahi kontolnya dan juga anus nick.Kontol kuda itu pun siap melaju."ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh"desak scoot dan nick..Kontol scoot kini masuk ke dalam anus nick.Nick tetap melanjutkan aksinya.Secoot memegangi pinggang nick dan membiarkan kontolnya beraksi.

mereka berganti-ganti posisi dan merasakan kenikmatan bersama

sex in the truck with arabian

ali tampak terdiam sambil memeprhatikan jalan,karena ia sedang menyetir sebuah truck barang.Sementara heru sedang aksik memainkan hpnya itu.Mereka berdua harus mengirimkan jerami ke salah satu desa.Perjalanan sangatlah melelahkan.Awalnya mereka memasuki kota dan tak lama kemudian mereka berhenti disebuah warung makan pinggir kota.Setelah makan mereka pun melanjutkan perjalananya kembali.Malam semakin larut dan ali terlihat kelelahan,sehingga ia memutuskan untuk berhenti dan istirahat di pingiran sebuah desa.Mereka pun tampak tidur pulas dan tanpa sengaja tangan heru mengenai kontol ali yang masih terbungkus celana kolor abu-abu itu.Tampaknya ali sedang tak memakai cd.Relief kontolnya begitu terlihat jelas.Heru sudan dapat mengira-ira bahwa kontol ali itu besar dan panjang.Bahkan panjangnya mencapai setengah dari paha ali.Maklum ali masih memiliki darah arab dari ayahnya.Heru pun mencoba memindahkan tangannya dari tubuh ali.Tanpa diduga ali bangun dan justru menarik tangan heru dan meletakannya diatas kontolnya lagi.Ia pun memegangi tangan heru dan menyuruhnya untuk memijat kontolnya itu.Heru hanya terdiam dan menurutinya.Ia mulai memijat kontol arab itu dengan perlahan.Tak lama kemudian kontol itu bangun dengan tegaknya sehingga kolor yang dipakai seperti sebuah tenda dengan tiang ditengahnya.Ali pun mulai mencopot kolornya itu.Kini terlihat kontol besar,panjang,hitam,dan jembutan persis tebakan heru.Ali pun mulai mengocok kontol itu dengan penuh gairah.Sementara heru hanya dapar menelan ludahnya.
"kenapa lo her mau...?"tanya ali sambil menyodorkan kontolnya ke arah heru.
Heru hanya terdiam kemudian ia mengangukan kepala"mang boleh bang?"tanya balik heru
"ya boleh-boleh aja tapi lo harus mau gua entotin"jawab ali.Jawaban itu membuat heru terdiam sesaat.Ia membayangkan jika kontol arab itu menembus lobangnya,pasti begitu sakit dan perih namun kenikmatan tiada dua pasti terasa.Kemudia ali pun mengubah posisinya.Kini ia tiduran dikursi dan heru bersiap mengoralnya.Heru pun mengoral kontol ali dengan cepat naik,turun,naik turun diikuti dengan pantat ali yang naik turun juga.Karena ukuran kontol ali yang besar heru serasa ingin mutah awalnya namun setelah terbiasa menjadi tidak.Usai acara mengoral ali pun bangun dan melepas baju serta seluruh pakainya heru.Begitu terlihat tubuh heru yang sexy dengan ukuran kontol yang normal tapi lebih panjang.Ali pun mencoba untuk mencium heru namun heru menolak dengan mundur kebelakang sedikit.Namun ia terpojok disudut pintu dan ali berhasil mencium bibirnya.Ali mencium bibir heru dengan mesra seolah ia tak ingin melepaskanya.Heru pun terpancing gairahnya..Kini ia balik mencium ali dan melepas baju yang masih melekat di tubunya itu.Setelah ia mencopot baju ali tampak bubu-bulu halus didada dan menyambung ke perut dan melebat dijembut.Heru mulai mengerayangi tubuh ali.Ia mulai meraba-raba dada ali yang bidang dan berbulu dan keteknya serta lehernya.
Kini ali kembali mengubah posisinya lagi.Ia duduk didepan setir.Kontolnya yang panjang bahkan menyangkut di setir itu.Heru pun mulai menduduki paha ali.Sementara kontolnya beradu dengan kontol ali.Heru pun kembali mencumbu ali dengan mesranya.Ia mencium bibir ali dengan mesranya.Sesekali lidahnya bermain dimulut ali atau sebaiknya.
"her kontol gua udah gak sabar ni her"kata ali
"ya oke-oke tapi jangan disini sempit bang"kata ali
"ya udah kebelakang aja"sambung ali kemudian ia mengambil semancam botol yang berisi cairan bening yang biasa ali gunakan untuk mengocok kontolnya.
"tapi gendong bang"pinta heru manja
"ya okelah ayo"kata ali kemudian ia keluar dan mengendong heru.Dan berpindah ke bak truk yang berisi penuh jerami namun dibelakangnya terdapat ruang kosong.Ali pun mulai melumasi tanganya dengan minyak dalam botol tersebut dan mengoleskannya pada kontolnya lalu mengocoknya.Setelah dirasa cukup tegang ia mulai mengolesi lobang pantat heru dengan minyak itu.
"siap gak lo her"tanya ali
"ya siap aja bang"kata heru dengan sedikit takut.Ali pun menyuruh heru untuk berdiri bepegangan pada badan truck.Kini ali sudah siap ia pun memegangi kontolnya itu.Dan bles kepala kontolnya sudah masuk.Heru mencoba menahan rasa sakit itu.Ali pun mencoba memasukan kontolnya sebih dalam."ahhhhhh ahhhhhhhhhhh"desah ali.Akhirnya kontol itu berhasil masuk seluruhnya.Ali mulai memaju mundurkan kontolnya dengan perlahan kemudian menjadi cepat.
"ahhh ahhh ahh ahh ahhh ahhh terus bang"kata heru tampaknya kini ia mulai bergairah.Mendengar ucapan itu ali mempercepat gerakannya.Sejenak ia menghentikanya dan menciumi pungung heru lalu memulai aksinya kembali.Ali pun semakin bergairah karena sebelumnya ia minum obat kuat.
"ahhh ahhhhhh aahh ahhhhhhhhh"desak heru saat kontol arab itu mengobrak-abrik anusnya
ali tanpaknya tak menghiraukan heru yang sudah kecapekan melayani dirinya.Namun ali masih tetap saja mengenjot kontolnya itu didalam anus heru.Kemudian ali mencabut kontolnya dan tiba-tiba "crottttttttttt crrrrrrrrrrrooooooottttt cccccccorrrrrrrroooooot"cairan sperma putih kental meluncur dari mulut kontol ali,sebagian mengenai tubuh heru.Mereka kemudian beristirahat sebentar dan bersandar pada tumpukan jerami.Mereka pun kembali bercumbu.Heru merasa kegelian saat kontolnya bersentuhan dengan kontol ali.
"lagi yuk her nangung ni"kata ali.Tampaknya ia kecanduan dengan anus heru yang masih perawan itu.
"ah abang maennya keras.sakit tau"kata heru dengan nada sedikit marah
"sorry deh udah lama kontol gua gak ada yang ngerasain soalnya"kata ali sambil tertawa.Mereka kemudian mengelar alas yang ada dipojokan.Alas itu biasa digunanakan untuk mereka tidur.Ali pun mengambil setumpuk jerami untuk bersandar.Kini ia mengambil posisi duduk.Sementara itu heru sudah bersiap kembali.Heru pun menduduki kontol ali dan memulai aksi mereka lagi.Ia pun naik turun naik turun di atas kontol ali dan ali memegangi pingangnya.Kemudian heru berhenti.Ia mencium bibir ali dengan mesranya sementara itu kontol ali masih berada didalam anus heru.Tampaknya heru terpikat pada bibir ali yang memang sexy merah muda alami.Heru pun memulai aksinya kembali.Ia naik turun diatas kontol arab itu."ahh aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhh ahhhhhhh ahhhhhhhhh"desah heru.Ia pun mempercepat gerakanya."ooohhhhhh oooohhhhhhh ooooohhhh"desah ali menyusul.Mereka pun berhenti sejenak.Malam semakin larut namun mereka tak menghiraukanya.Tumpukan jerami dan beratap terpal membuat angin malam tak banyak yang masuk.
"bang udah ah pegel ni dari tadi naik turun mulu"pinta heru.
"ah lo mah tepar mulu"goda ali
"abang kan udah biasa ngetot kan"balas heru
"ooo lo sekarang berani sama gua ea"jawab ali dengan nada seram.Ali pun bergegas menghampiri heru.Ia memasang nada marah untuk menakutinya.
"bang ampun bang tadi cuma bercanda"pinta heru.Namun heru sudah dipojokan dan ali dengan mudah mencengkram tanganya dengan kuat.Heru hanya dapat meronta-ronta saat tangan ali yang kasar membungkam mulutnya.Ia kemudian menjatuhkan heru dengan perlahan di atas alas.Ali pun menciumi heru kembali.Heru hanya terkejut namun ia membalas
"tenang aja gua gak marah sama lo"kata heru mencoba menghibur heru yang masih ketakutan
"ah abang mah gitu"kata heru dengan manyun.Ali pun menyuruh heru untuk membuka kakinya lebar lebar dan meletakanya di pundaknya.Kini ali bersiap memasukan kontolnya lagi.Ia mengolesi seluruh kontolnya dengan sisa-sisa sperma dikontolnya.Ali pun memasukan kontolnya kembali.Tampaknya ali sudah tidak kesulitan lagi untuk memasukan kontolnya.Lobang pantat heru tampaknya melebar setelah kontol arab itu mencobanya.Ali pun memulai aksinya kembali,mempercepat gerakan kontolnya itu.Sementara heru hanya memejamkan mata saat kontol arab itu beraksi.
"ahh ahh ahhh ahhhhh aaahhh"desah ali.
"bang terus bang ahhhh ahhhhhh kontol'nya bang lanjut bang ahhhh ahhhh ahhhh"desah heru.
setelah merasa puas mereka pun tertidur dengan keadaan telanjang.Heru tidur dengan membelakangi heru sementara ali memeluknya dari belakang.Kontol ali tetap berada di dalam anus heru selama mereka tidur.Walaupun kontol itu lemas tetap saja anus heru terasa penuh.
cahaya matahari membangunkan mereka.Mereka pun berbegas membersihkan diri dan berpakaian.Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanannya kembali

Asiknya Main Kartu

Mungkin gue gila sex, tapi gue nggak ngerasa seperti itu. Kalau dibilang exibisionist, nggak juga, karena gue berasa biasa aja kalo telanjang bulat pas mandi sehabis berenang. Nggak tahu deh! Gue mid 20, pokoknya umur gue masih kepala dua, badan biasa-biasa aja, cuman karena emang hobby berenang, yah, rada ada bentuknya. Kulit gue sawo matang, kebakar matahari tapi nggak gosong, kulit sehat lah, juga karena kebanyakan berenang. Belang, pasti, cuman sebatas celana renang doang.
Gue usahakan celana renang yang seminim mungkin, abis pake G-string di kolam renang Jakarta, hebohnya se-Indonesia, walaupun bagi gue nggak pake celana sama sekali juga nggak ada masalah, tapi orang lain......wuah ntar dulu. Kejadian ini waktunya kira-kira lepas jam enam sore, kebetulan lagi sendirian dirumah, tauk orang-orang rumah lagi pada ngelayap kemana. Udah selesai mandi, dan lagi bengong didepan tivi.
Acaranya sinetron Indonesia, nggak tahulah, emang lagi males nonton.
Nggak berapa lama, ada suara mobil berhenti didepan rumah. Ah, paling tetangga sebelah, pikir gue jadi cuek aja. Baru mau ambil air minum, bel rumah bunyi, terpaksa gue bukain pintu. Didepan pintu, Andi, Adhi dan
Satya berdiri cengar-cengir.
"Sendirian aja lu, Al ?" tanya Andi
sambil nyelonong masuk. "Yoi, tau pada kemana!" jawab gue sambil nutup pintu depan karena mereka udah pada masuk semua. "Lu pada mau kemana sih, sore-sore udah pada nongol disini ?" tanya gue lagi. "nggak, bengong aja dirumah, jadi gue ajakin anak dua ini kesini, main aja kerumah elu......emangnya nggak boleh!" jawab Satya. "Boleh aja, gitu aja nyolot sih!" kata gue lagi, becanda. "Al, bokepnya ada yang baru?" tanya Adhi lagi. "Lu pikiran ke bokep mulu, lagi kosong nih, majalah ama vcd masih yang lama, jawab gue lagi. "Aduh, ngapain dong, gue juga bosen nih bengong doang" Kata Andi. "Keluar yok, nonton bioskop" kata gue yang juga udah bosen dari tadi.
"Ogah ah, lagi kering nih, kan tanggal tua" jawab Satya. Akhirnya berempat cuma geletakan aja didepan tivi, sambil ngeliatin Sinetron apaan tauk. "Main kartu aja, mau nggak? Yang kalah dicoreng mukanya pake bedak!" usul gue. "Mana kartunya" kata Andi. Gue ambilin kartu remi porno oleh-oleh temen gue dari Amrik,"Nih,, mainnya pake kartu ini biar semangat". "Wah, boleh juga nih...!" ketiganya mulai semangat. Ada kali kita main cangkulan selama 15 menit, penuh dengan canda, dan nggak tau kenapa, Andi lagi kena giliran kalah melulu, sampe mukanya celemotan bedak kemana-mana. "Udah ah, nggak seru, gue kalah mulu" kata Andi nyerah. " Ya udah, peraturannya diganti" kata Satya," yang kalah harus buka bajunya satu persatu, kalo kalah terus , lama-lama jadi bugil" "Gila luh, kartunya kayak beginian, ntar ngaceng lagi kontol gue" jawab Adhi. " Takut ? Yah gitu aja takut!" kata Satya. "Nggak !" Jawab kita bertiga hampir bareng.
Kita mulai maen lagi. Giliran pertama, gue kalah, terpaksa gue ngebuka kaos gue, sehingga gue tinggal bercelana pendek (dari tadi juga cuma pake celana pendek bola dan kaos doang, mana nggak pake celana dalem lagi!) Giliran kedua dan ketiga,
Satya kalah terus, mau nggak mau dia lepas kaos dan celana panjangnya, tinggal pake celana dalem bikini warna merah. Ngejreng banget, sampe bertiga sempet ngetawain Satya. Satya diem aja sambil merah juga mukanya dan ngocok kartunya. Kartu reminya kartu bokep, kontol Satya juga ngaceng, lumayan besar, gue yakin itu belum ngaceng penuh, bulu jembutnya sampe keperut-perut.
Semua akhirnya dapet giliran kalah, dan cuman bercelana dalem ria. Adhi pake G-string warna putihnya body master, kontolnya di kebawahin jadi keliatan besar banget, bulu jembutnya rapi nggak begitu keluar- keluar. Sementara Andi pake mesh bikini putihnya Jockey, tititnya kebayang banget urat-uratnya, besar juga. Gue sendiri, masih menang terus, jadi masih pake celana bola tadi, kontol gue juga udah ngaceng berat. Sialnya, giliran berikutnya gue kalah! "Wah, gue nggak pake celana dalem nih !" protes gue. "Nggak ada, peraturannya kan begitu!" kata Andi. "kalo gue kalah lagi, gue musti buka apaan dong ?" tanya gue lagi. "Musti nurut perintah yang menang" kata Satya. Terpaksa gue buka celana bola gue, dan memperlihatkan kontol gue yang udah tegang banget sama mereka. "Kontol lu gede juga, Al !" kata Adhi,"jembutnya tebel banget, emang nggak pernah dicukur apa!"
Gue cuman nyengir. Sekedar informasi, titit gue sekitar 15 cm-an, kalo ngaceng lurus kedepan, dan gue disunat, jadi ada helm kontolnya, yang merah kalo udah ngaceng banget. Jembut gue juga tebel, kalo diraba kayak karpet aja tebelnya. Kita mulai main lagi, dan sialnya, gue kalah lagi, giliran Adhi yang menang. "karena gue menang, elu harus isep to'ol gue", kata Adhi. "Buka!" kata gue. Dibukanyalah G-stringnya.
Kontolnya sepanjang 13 cm, sudah ngaceng berat, hingga kepalanya berdenyut-denyut. Kontol Adhi agak ngaceng ke kanan, dengan jembut yang rapih disekitar batang kemaluan. Gue isep kuat-kuat kontol Adhi, sambil sekali-sekali njilatin bijinya. Adhi mengerang keenakan.
Makin keras gue sedot dan isep tititnya. Tiba-tiba titit gue berasa hangat dan diisap-isap. Gue liat Satya sudah nyepong kontol gue dengan nafsunya, sambil melepas bikini merahnya. Kemaluannya tegang rapat kearah perut dengan kepala kontol yang tidak begitu besar.
www.ceritagay.uiwap.com
Diameter tititnya paling besar antara
gue dan Adhi, tapi agak pendekan terus jembutnya memang sampe keperut tapi nggak setebel jembut gue. Adhi nggak tahan, ditariknya Andi, dan dibuka celana dalamnya sampe lepas, dan diisapnya kontol Andi. Kemaluan Andi paling panjang, hampir 17 cm, tapi diameternya kecil dan agak mencong kanan dan menunjuk kebawah waktu ngaceng. Kita berempat telanjang bulat, saling menghisap kontol, Andi dengan cepat menghisap kontol Satya, sehingga kita berempat membentuk lingkaran , dengan mulut masing- masing saling menghisap kontol temannya. Bergantian kita saling mencoba titit-titit yang lain. Kartu remi sudah disingkirkan, tinggal kita berempat didepan tivi yang masih menyala membuat kegiatan sendiri.
Sampai setengah jam kemudian, semua telah mencapai klimaks dan kami masing-masing menyemprotnya cairan mani yang kental dan sangat banyak. Terpaksa gue ngepel malam itu. Kita berempat berpandangan dan tertawa....! Malam itu kita habiskan bersama, tanpa busana sama sekali, berempat, hingga dua kali kita mencapai klimaks ! What a night! Ada lagi yang mau join, main kartu sambil.... ehm...ehm...!

Dicabuli Kak Fandi

Berawal dari sebuah permainan olok olokan bersama teman teman asrama. Kami menyebutnya main “jajah jajahan”. Permainan ini bisa berupa permainan apa saja misalnya main Kartu Domino, Kartu Remi sampai main petak umpet. Yang pasti barang siapa yang kalah harus di jajah makanya permainan ini di sebut “Jajah Jajahan”.
Bentuk Hukuman jajah jajahan itupun beragam bisa di suruh mengisi bak kamar mandi, membersihkan toilet, mengerjakan PR bahkan uji nyali.
Nah, yang kami lakukan waktu itu adalah bermain Domino dengan hukuman berupa “Uji Nyali”. Saya sebenarnya cukup jago dengan permainan yang satu ini, tetapi permainan tetap permainan tidak mungkin kita selamanya menang. Sayapun mengalami kekalahan dan teman teman memberikan saya hukuman yang awalnya saya rasa cukup ringan yaitu hanya untuk mengatakan sesuatu kepada salah seorang kakak senior di Asrama kami bernama yang bernama Fandi.
Kata teman teman saya, Kak Fandi sekarang lagi pacaran sama seorang teman sekelasnya bernama Muthia. Hukuman saya dari teman teman adalah untuk mengatakan “Kak Fandi Pacarnya Muthia” sebanyak 3x persis di depan Kak Fandi secara angsung dan sayapun menyetujuinya.
Saya melihat Kak Fandi sedang duduk di bawah pohon ketapang sambil menyeka keringatnya sehabis bermain Bola. Sayapun langsung mendekati Kak Fandi. Teman teman saya memperhatikan dari jauh sambil sesekali mereka tertawa girang dengan hukuman yang telah mereka jatuhkan terhaap saya.
Begitu sampai persis di depan Kak Fandi saya dengan tanpa beban langsung mengucapkan dengan sangat lantang “Kak Fandi Pacarnya Muthia”. Belum juga sampai tiga kali saya menucapkan kata kata tersebut saya melihat Kak Fandi melotot dan langsung bangkit dari tempat duduknya. Sayapun mulai risih (Baca: takut) dan langsung berlari menjauh. Eeeh ternyata Kak Fandi mengejar saya.
Sayapun berlari sekencang kencangnya namun Kak Fandi yang jago bermain bola di Sekolah hanya beberapa langkah saja dari saya. Akhirnya saya memutuskan untuk masuk ke sebuah ruangan kosong bekas kelas yang sudah tidak terpakai dan bersembunyi di bawah kolong meja.
Sayangnya Kak Fandi tahu tempat persembunyian saya. Diapun langsung mendekati saya dan menarik saya dengan kasar dari bawah kolong meja. Saya sama sekali tidak berdaya. Saya hanya bisa meminta ampun sama Kak Fandi. Tetapi dia terus saja mencengkeram kedua lengan saya, menariknya kebelakang dan menguncinya sampai saya meringis kesakitan. Kata ampun dan maaf tak henti hentinya saya ucapkan tetapi Kak Fandi sepertinya sudah terlalu marah sama saya. Dia tetap tidak memperdulikan rasa sakit yang saya alami sampai kemudian dia berkata
“Kamu tahu yang namanya Muthia itu?” saya hanya bisa menggelengkan kepala
“Mana mungkin saya tahu nama anak anak SMA, saya kan masih SMP walaupun kita sama sama tinggal di satu asrama” pikirku salam hati.
“Dia itu mirip Betty La Fea (Waktu itu lagi ada telenovela Betty La Fea), Dia siswi paling jelek di kelas saya” katanya melanjutkan perkataannya.
“Maaf Kak, saya benar benar tidak tahu” timpalku sambil menahan rasa sakit akibat pelintiran tangannya yang kuat.
“Sekali lagi kamu katain saya pacaran sama Muthia, saya perkosa kamu” kata Kak Fandi lagi sambil menempelkan badannya persis di pantat saya.
“Mau kamu saya perkosa?” tanyanya lagi
“Tidak Kak, ampun” jawabku sambil memelah
Entah kenapa tiba tiba saya merasakan ada sesuatu yang mulai mengeras yang menggesek gesek pantat saya. Sepertinya Kak Fandi ereksi. Saya pun semakin merasa takut tetapi Kak Fandi sepertinya menikmati apa yang dia lakukan. Dia mulai menggoyang goyangkan pantatnya sambil tetap mengarahkan kedua tangan saya ke atas meja. Posisi sayapun jadi semakin menungging. Kak Fandi sepertinya sudah kehilangan akal sehatnya. Dia tiba tiba mencium tengkuk saya dan saya mendengar desahan yang berbeda dari irama napasnya. “oohh Kamu mau saya perkosa?” katanya lirih. Saya tidak menjawab apa apa karena saya sendiri tiba tiba menjadi ereksi juga.
Kontol saya yang ereksi terasa sesak dan sakit karena mepet ke meja, lalu saya berusaha untuk melepaskan cengkeraman tangan Kak Fandi bukan untuk berontak tetapi untuk membuat saya lebih nyaman. Tetapi Kak Fandi menilainya salah. Dia mengira saya mau melawan jadi cengkeramannya semakin kuat.
Kak Fandi memiliki badan yang sangat besar dan kekar. Walaupun masih SMA tetapi dia sangat rajin olah raga. Selain Sepak Bola, di kamarnya penuh dengan Barbel berbagai ukuran yang dia buat sendiri menggunakan campuran semen. Wajah dan postur badannya sangat mirip dengan Bintang Film Philippine Janvier Daily.Itulah satu satunya alasan kenapa sekarang aku sangat menggilai Aktor asal Philippines ini. Walaupun banyak sekali yang lebih ganteng darinya. Tapi dialah gambaran sempurna dari Kak Fandi.
Merasa semakin sakit akibat cengkeraman Kak Fandi, akhirnya saya beranikan diri untuk bicara
“Kak lepasin tangan Kakak, saya tidak akan melawan Koq. Cuma tangan saya dan kontol saya sakit terkena meja” kataku pelan seraya berbisik.
Akhirnya Kak Fandi melepaskan cengkeraman tangannya. Sekarang dia malah memeluk badan saya dari belakang sambil terus menggoyangkan pantatnya dan menciumi tengkuk saya.
Aku bisa merasakan dengan jelas betapa besarnya kontol Kak Fandi yang tersembunyi di balik Celana Sepak Bola berwarna Putih yang dia gunakan.
“Kita buka baju ya” katanya berbisik di telingaku. Aku hanya diam tak menjawab. Sebenarnya aku masing bingung dengan apa yang terjadi. Di satu sisi aku takut akan benar benar di perkosa oleh Kak Fandi selain karena takut akan kesakitan tetapi juga takut karena tahu ini sesuatu yang salah.
Tanpa menunggu persetujuanku Kak Fandi membuka kancing bajuku satu persatu (Aku masih dalam posisi membelakanginya). Aku hanya bisa pasrah mengikuti permainannya. Setelah menanggalkan bajuku, dia tiba tiba membuka kancing celanaku dan menurunan resletingku. Ada perasaan panic sebenarnya dalam hatiku. Tetapi lagi lagi, aku hanya bisa diam dan pasrah. Tetapi begitu dia menurunkan Celana dalamku, aku beranikan diri membalikkan badan kea rah Kak Fandi dan Berkata
“Tolong, Jangan lakukan ini Kak” pintaku mengiba.
Kak Fandi tersenyum kepadaku lalu berkata “ Jangan khawatir, aku tidak akan masukin. Aku hanya ingin kamu menjepit kontolku pake paha kamu”.
Aku kembali terdiam menuruti apa yang dilakukan Kak Fandi. Dia lalu membuka kaosnya dan langsung menidurkan aku di atas bangku panjang. Dia menindihku sambil menggoyangkan badannya seirama dengan nafsu yang tengah menggelora di otak Kak Fandi. Anehnya aku semakin menikmatinya. Tanpa di komando tiba tiba tanganku meraih celana Kak Fandi dan meremas remas pantatnya serta sesekali meraba raba Kontolnya yang ternyata sangat besar.
Entah kenapa aku tiba tiba memberanikan diri memelorotkan Celana Kak Fandi. Dia pun membantu aku melepas celananya. Kini tinggal Celana Dalam putih ketat yang membungkus pantat gempal dan Kontolnya yang besar. Dia kembali tersenyum padaku. Aku meremas kedua bongkahan pantat gempalnya. Kak Fandi memejamkan mata seperti sangat menikmatinya.
Tak tahan melihat isi di balik celana dalam putih Kak Fandi, akupun langsung memelorotkan celana dalam itu dan oohh, sebuah rudal besar berukuran mungkin 18 cm keluar dengan gagah perkasa dan bahkan terlihat angkuh karena ujungnya sedikit melengkung ke atas. Aku tidak pernah melihat kontol sebesar itu. Apalagi di tumbuhi bulu bulu lebat dan terlihat berotot. Di bawahnya menggantung dua biji pelir yang juga cukup besar.
Aku merasa mulai gila, aku tak sanggup menahan rasaku. Aku memegang kontol itu dan mengelusnya sambil sesekali meremas remas buah pelir Kak Fandi.
Kak Fandi kembali tersenyum padaku. Diapun meremas remas kontolku dengan lembut. Aku merasakan sensasi luar biasa.
Tak puas dengan hanya memainkan kontol Kak Fandi, aku meraba pantat gempalnya dan sesekali meremasnya kuat. Kak Fandi sepertinya mengerti kalau aku menyukai pantatnya. Tiba tiba dia berbisik padaku
“Kamu mau diatas?”
Setelah mengecup keningku dia mengangkatku dari bangku lalu menggantikan aku merebahkan badannya di atas bangku dengan posisi tengkurap.
Aku melihat keringat mulai meleleh dari punggung Kak Fandi yang mengalir kea rah pantatnya. Aku menjadi semakin bernafsu. Lalu aku menindihnya Kak Fandi dan menggoyang goyangkan kontolku di atasnya.
Kak Fandi membimbing kontolku ke arah pinggangnya dan menjepitnya lembut. Aku pun mulai memompakan kontolku dalam jepitan paha Kak Fandi. Tetapi hasratkau terhadap pantat Kak Fandi jauh lebih besar. Aku menarik kontolku dan mengarahkannya ke bongkahan pantat Kak Fandi.
Mungin Kak Fandi mengerti keinginanku, dia merenggangkan kedua pahanya sehingga aku bisa dengan lebih mudah menggesekkan kontolku di antara bongkahan pantat Kak Fandi yang di tumbuhi bulu bulu halus.. Aku merasakan sensasi kehangatan yang luar biasa. Nafsuku semakin membuncah, Ingin rasanya aku mencoba memasukkannya kedalam lubang kenikmatan Kak Fandi tetapi tiba tiba Kak Fandi membalikkan badannya.
Dalam posisi duduk dia menyandarkan punggungnya di tembok lalu membimbing aku untuk duduk menempel di atas pahanya.
Kak Fandi meraih kemaluanku dan mengocoknya bersamaan dengan kemaluannya sendiri yang sudah mulai mengeluarkan sedikit precum.
Aku memperhatikan wajah tampan Kak Fandi yang terus terpejam menikmati kenikmatan. Ku perhatikan dia sesekali menggigit bibirnya.
Kami semakin basah oleh peluh. Kembali keperhatikan wajah tampan Kak Fandi, aku tak tahan melihat bibir tipis yang sesekali di gigitnya.
Kudekatkan mukaku kepadanya. Lalu aku memberanikan diri mengecup matanya yang masih terpejam. Diapun membuka matanya dan memandangiku dengan penuh seksama namun dia kembali terpejam. Aku bagaikan di tarik magnet yang sangat kuat. Tiba tiba bibirku sudah mendarat tepat di bibirnya. Dia hanya terdiam tak bereaksi sama sekali tetapi aku merasakan kalau dia sangat menikmatinya. Sambil mengocok kemaluanku dengan tangan kanan, Tangan kiri Kak Fandi meremas remas bongkahan pantatku.
Aku kembali mencium Kak Fandi. Aku membasahi bibirnya dengan lidahku, lalu melumat bibir bagian bawahnya tapi Kak Fandi belum juga membalas walaupun mulutnya sudah mulai sedikit terbuka sehingga aku bisa memainkan lidahku di bagian dalam bibir Kak Fandi sambil sesekali melumatnya. Aku semakin menikmati apa yang aku lakukan. Dengan lidahku aku mencoba menerobos dinding mulut Kak Fandi yang masih tertutup oleh giginya yang tertapa rapi. Usahaku berhasil. Kak Fandi membuka mulutnya agak lebar sehingga aku bisa menempelkan ujung lidahku dengan lidahnya sambil sesekali kami sama sama saling menggoyangkan lidah kami. Aku yang semakin menikmati permainan lidah ini tak mau hanya sampai disitu. Aku menjadi lebih agresif. Aku mulai memancing agar bisa melumat lidah Kak Fandi sepenuhnya. Kembali usahaku berhasil, Kali ini Kak Fandi mulai membuka matanya dan menatapku sebentar. Kemudian dialah yang menyasar mulutku dan merengkuh lidahku seolah olah ingin melumat sampai ke ujungnya. Sesekali aku merasa kewalahan.
Kembali mata kami saling bertatap seolah ingin bertutur betapa kami sangat menikmati semua ini. Kak Fandi kemudian menjilati leherku dan dadaku yang penuh dengan keringat. Lalu dia mencucup putting susuku sambil sesekali menggigitnya. Akupun menggelinjang menahan nikmat luar biasa setiap kali dia menggigit putting susuku. Akupun mencoba meraih dadanya dan melakukan hal yang sama. Aku memelintir putting susu Kak Fandi dengan jari tanganku. Aku mendengar dia melenguh menahan nikmat. Lalu aku kembali mengambil control. Tanpa mempedulikan keringat yang bercucuran di dada Kak Fandi aku menjilatnya dan sesekali menggigit putting susunya sambil tangan kiriku memainkan putting susu yang satunya. Aku mendengar Kak Fandi mengerang nikmat.
Dia mengangkat mukaku lalu mencium bibirku dengan sangat kuat sambil tangannya semakin kencang mengocok kontolnya. Badan Kak Fandi menggelinjang kuat dan memuncratkan pejuh yang begitu banyak ke badanku. Cukup lama kontol Kak Fandi tak henti hentinya mengeluarkan cairan membuat akupun semakin terpacu mengocok kontolku sendiri.
Melihat aku yang belum keluar, Kak Fandi kembali menciumiku dan memijit buah pelirku. Akupun mulai merasakan badanku serasa mengejang dan tak kuasa menahan cairan kental keluar dengan sangat deras dari batang kemaluanku memenuhi perut dan dada Kak Fandi.
Kami sama sama menarik nafas panjang. Kami hanya saling pandang tapi tak berbicara. Aku tertegun dalam diam.
Aku kemudian beranjak dari tempat dudukku dan mengambil pakaianku. Tanpa mampu berkata apa apa aku hanya bisa memandang Kak Fandi dan berlalu dari tempat itu.
Aku setengah berlari bergegas menuju ke kamarku yang berjarak sekitar 100 meter dari TKP.
Di dalam kamar, aku kembali mengenang hal yang baru saja aku lakukan dengan Kak Fandi. Entah kenapa aku mulai merasa bersalah, menyesal dan bahkan malu sama diriku sendiri.
Beberapa teman yang melihatku seperti orang linglung sempat bertanya “Kamu lagi sakit ya?” Tanya teman sekamarku Ronni. Aku tidak menjawab. Aku beranjak mengambil handuk lalu bergegas menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi aku menangis, aku muak dan marah sama diriku sendiri. Aku lampiaskan kemarahanku dengan menghantam tembok dinding kamar mandi sampai tanganku terasa perih karena lecet.
Rasa sakit akibat menghantam tembok tidak ada artinya di bandingkan dengan rasa sakit hati terhadap diriku sendiri yang telah melakukan perbuatan hina. Air mataku semakin tak terbendung. Aku lalu membenamkan mukaku kedalam bak kamar mandi dan berteriak sekencang kencangnya sampai nafasku terasa sesak.
Akumenggosok badanku dengan sikat pakaian berharap semua dosa dan noda yang melekat di badanku bisa luntur bersama daki yang melekat di tubuhku.
Begitu keluar dari kamar mandi aku melihat Kak Fandi berjalan kearah kamar mandi. Dia memandangku sejenak lalu menunduk.
Entah kenapa aku mulai merasa muak, jijik dan bahkan mungkin benci melihat wajah Kak Fandi. Aku merasa sangat sakit hati.

Polisi

Selalu saja penyesalan terjadi belakangan. Seandainya saja aku tidak bernafsu ingin melihat VCD "Belum Ada Judul" yang sempat menghebohkan itu, tentunya aku tidak harus terkena masalah. Teman-temanku selalu tidak ketinggalan barang baru. Aku selalu jadi cemoohan, karena aku selalu yang paling akhir menikmati apa saja yang jadi santapan mereka. Entah itu perselingkuhan si mandor, tertangkap basahnya bos dengan sekretarisnya di kamar mandi, bahkan hal-hal kecil, seperti adanya blue VCD baru.

Bekerja di perusahaan rancang bangun selalu kehabisan waktu, namun penuh tantangan, maka sangat dibutuhkan hiburan agar pikiran selalu fresh, apalagi aku selaku designer rancang bangunnya, sangat butuh itu. Aku penasaran ingin membuktikan kehebohan VCD itu, maka ketika akhirnya temanku ada yang membawakannya, tanpa pikir panjang aku menerimanya.
Dengan Tiger kesayanganku, kupacu motorku kencang agar secepatnya bisa menonton VCD. Yogya-Magelang yang biasanya sebentar, terasa begitu lama, meski aku mempercepat laju motorku di atas 110 km/jam. Mungkin perasaan was-wasku penyebabnya. Aku sengaja pulang lebih sore daripada biasanya, berharap tidak ada polisi yang sedang operasi. Rasa lega menyeruak, begitu memasuki kota Yogya. Namun di depan sebuah plaza, aku tersentak, ketika ada sedikit kemacetan.

Ahh sial, gerutuku. Semoga hanya operasi kelengkapan surat-surat saja, bisikku dalam hati. Aku berhenti agak jauh dari tempat diberhentikannya kendaraan-kendaraan. Aku celingukan, mencoba mencari jalan tikus yang bisa kujadikan jalan selamat. Namun belum sempat aku mematikan motorku, seorang polisi telah mendekatiku.

"Selamat petang, Mas. Maaf mengganggu kenyamanan Anda. SIM dan STNK, mohon dikeluarkan?", keramahan polisi itu sedikit menyejukkanku.
"Oh iya, Pak. Ada", bergegas kusodorkan.
"Terima kasih, silakan melanjutkan perjalanan Anda!". Aku sedikit mengelus dada, syukur. Segera kuhidupkan motorku. Tanpa mengengok lagi, aku melaju.
"Mas! Maas, berhenti!". Aku menoleh, dan polisi itu kembali melambaikan tangannya. Terpaksa aku berhenti.
"Sekali lagi maaf, Mas. Ini operasi sajam dan narkoba. Saya harus memeriksa isi tas Anda!".

Duerr, serasa sebuah peluru menembus kepalaku. Aku lunglai. Aku yakin, polisi itu akan mencibir atau memperkarakanku dengan semua isi di tasku. Dua batang penis buatan yang dibawakan temanku untuk melambungkan gairah istriku. Bullshit. Terngiang sindiran teman-temanku yang menjamin bahwa istriku akan klimaks 5 kali dengan benda itu. Belum lagi VCD bokep sialan itu.

"Maaf, Pak. Ini pinjaman dari temanku. Kalau bapak berkenan silakan ambil, atau kuharap ini bisa membuka hati Bapak!", aku menyodorkan KTP dan secarik kertas yang telah kutuliskan nomor HP-ku.
"Saya ada 3 juta, tapi di rumah. Saya mohon bapak mengerti posisi saya, lagipula barang itu tidak berbahaya dan tidak termasuk kategori operasi Bapak, kan?".

Polisi itu mengangguk, sambil menerima KTP dan nomor HP-ku, lalu mempersilakanku melaju. Aku melonjak girang dalam hati. Meski sial, namun 3 juta tidak sebanding dengan nama baikku yang bakal tercoreng. Bagaimana aku harus menjelaskan kepada istriku? Bagaimana kesan keluargaku, jika tahu bahwa aku berurusan dengan polisi karena film bokep? Belum lagi pada para remaja yang menganggapku serba sempurna, saat aku memimpin rapat karang taruna mingguan mereka.

'Kutunggu di tempat kemarin kami operasi, jam setengah 7 malam, tepat. Kuharap Anda sudah siap', begitu SMS yang di kirim polisi itu, sebelum aku berangkat ke proyek. Setengah celingukan aku melambatkan laju motorku, mencari sosok polisi itu, sore itu. Hmm, jam 18:25, mungkin polisi itu belum datang, gumamku.

"Selamat petang, ikuti aku!". Seseorang menjabatku. Ohh, polisi itu tidak berseragam, pantas saja aku pangling. Segera kuikuti motornya.

Di kawasan yang tidak begitu padat, polisi itu menghentikan motornya. Persisnya di depan rumah yang tidak besar namun terlihat asri. Dia membuka pagar dan masuk. Tangannya melambai, menyuruh aku juga memasukkan motorku.

"OK Dj, inilah rumahku!". Plak, aku serasa tertampar. Darimana dia tahu nama samaran itu? Aku bingung, ternganga.
"Ada yang salah?". Senyum yang menggantung di bibirnya itu kurasa sengaja mempermainkanku. Aku makin bingung, namun kulihat di rona wajahnya seakan sedang sangat bahagia, seolah baru mendapatkan sesuatu yang lama diidamkan.
"Setengah tahun lalu kamu ganti nomor polisi motormu, kan? Kenapa? Takut ada yang mengenali motormu? Takut ada yang minta jatah dan kau tidak mau? Salahmu sendiri, kenapa terlalu jujur dan mencantumkan identitas motormu di ceritamu, itu berarti kau mengumumkan kepada kaum gay bahwa ini lho aku, Dj-paijo!".

Rentetan kata-kata bernada menyindir itu seolah menohokku, bagaimana dia tahu?'

"Kamu semakin menggemaskan kalau kebingungan begitu. Lucu, tapi menggairahkan". Aku hanya ternganga tak percaya.
"Jangan begitu, dong. Dua bulan lebih aku mencari informasi siapa gerangan pemutasi nomor polisi lamamu itu, begitu aku pindah tugas ke Yogya. Aku selalu deg-degan kalau kebetulan melihat pengendara Tiger, mungkinkah kamu? Sebetulnya bisa aku percepat, tapi aku tidak mau dicurigai ada apa-apa oleh teman korpsku. Jadinya yaa harus sabar, dan memang orang sabar banyak rejeki, kan? Kita jodoh, dan bertemu".
"Jadi..".
"Heran ada orang sepertimu di tempatku bekerja? Banyak, cah bagus, di instansi manapun juga pasti ada!".
"Jadi..".
"Iya. Aku tahu kamu dari 17Tahun.com, dan kemarin sebenarnya bukan operasi sajam atau narkoba, tapi ada kecelakaan. Sepintas aku lihat Tiger metalik dengan agak ragu-ragu melaju, kucocokkan nomor polisinya dengan catatan hasil investigasiku yang sudah kuhafal di luar kepala. Begitu aku yakin kalau itu adalah nomor barumu, baru aku dekati kamu".

Aku mengangguk, mulai memahami. Aku menjadi lebih tenang. Kusodorkan sejumlah uang yang kujanjikan, dan meminta KTP-ku. Namun polisi itu tersenyum, menggeleng.

"Aku tidak butuh uang itu. Aku butuh lebih dari itu". Senyuman misterius itu masih saja membuatku tak habis pikir.
"Aku memang puas menyaksikan berbagai bentuk penis teman-temanku ketika mandi atau bertukar pakaian, namun perlu kau tahu, aku jarang bergumul dengan mereka, bahaya. Tidak mudah menemukan seseorang yang dalam keadaan sepertimu. Bisa saja aku menggunakan gigolo, tapi riskan. Aku bisa kehilangan pekerjaan. Aku maunya dengan yang sepertimu, yang takut kalau ketahuan, yang akan sama-sama tahu untuk tidak bekoar, dan aku yakin bukan tipemu mengumbar omongan dan ngobral privasiku ke orang lain yang mungkin saja tertarik dengan kehidupanku, demikian juga aku. Jadi akan sangat aman bagiku".

Aku mengangguk kembali. Berkali mengangguk. Kulihat senyumnya masih menggantung di bibir manisnya. Dia menghela nafas panjang. Kemudian aku mendekat, berharap dia mau menerima uangku dan menyerahkan KTP-ku, agar aku tidak punya beban padanya. Namun uang itu dimasukkan kembali ke tasku. Dengan isyarat telunjuk yang ditempelkan ke bibirnya, dia menyuruhku diam. Kurasakan wajahnya begitu dekat dengan wajahku. Mulutnya membuka, mencoba menemukan mulutku. Untuk pertama kalinya, aku merasa nyaman dengan laki-laki. Mungkin karena dia adalah seorang polisi, yang selain macho, ada sensasi tersendiri yang telah sejak lama kukhayalkan.

Aku mulai mengikuti aksinya. Dengan aktif kulumat bibirnya. Begitu juga dia. Nafas kami mulai berpacu, dan membakar gairah petang. Kami berpagutan lama, seolah kami benar-benar merindukan hal itu sangat lama. Lidahnya sangat nakal bermain di mulutku, kusedot balik lidahnya. Dia mulai mengerang. Tanganku mulai menggerayangi selangkangannya. Kurasakan benjolan keras di balik celana panjangnya. Aku mulai tak tahan.

Kubuka kaos ketatnya, agak kesulitan memang, namun semua sebanding dengan badan tegap nan berisi yang ditawarkannya. Kekar tubuhnya yang terlatih setiap hari, semakin menggetarkan hasratku, aku semakin kesetanan. Kuraih celana panjangnya, dan mencoba melepasnya. Masih dengan berpagutan, aku berhasil menelanjanginya. Penis yang terbungkus celana dalam yang sangat ketat, kujamah dengan tanganku. Kupermainkan, agak sedikit kasar. Dia mengaduh, namun tetap membiarkan aksiku. Dia masih sibuk dengan gairah di mulutku. Tangannya mulai menuruni dadaku, mencoba mencari benda kesayanganku.

Aku terpekik, ketika tangannya mulai menemukan penisku. Dia mulai gemas. Dengan kasar, dia renggut apa pun yang kupakai. Tak kalah kasarnya, kutarik celana dalamnya, sekali lagi dia mengaduh, namun tak lama aku didekapnya erat. Penisnya yang keras, menusuk perutku, begitu pula penisku, ketika kami yang sama-sama telanjang, kembali berpagutan.

Aksinya yang kasar namun romantis, membuatku melambung tinggi. Mulutnya dengan ganas menyedot dua putingku bergantian. Aku mengerang. Aku dekap kepalanya yang berambut cepak, saat sensasi hebat bermain di kedua putingku. Aku semakin melambung, saat lidah kasarnya menjilati putingku. Tanganku tak kalah hebatnya mencakar daerah selangkangannya, dan merancap penis besarnya.

"Uuh, Yeahh". Kata-kata itu berulang kali keluar dari mulutnya, semakin membuatku begitu menikmatinya. Apalagi ketika mulutnya mulai menemukan penisku, aku mengerang.

Berkali-kali disentilnya penisku. Dua pelirku, tak luput dari gigitan nakalnya. Bergantian mulut indah itu mengulum buah pelirku. Sesekali aku mengaduh, saat dia menggigitnya. Kembali aku mengerang. Jari-jari tangannya menusuk-nusuk anusku, sementara mulutnya tak henti, bahkan semakin agresif menyedot penisku, seolah ingin meminum semua spermaku yang masih jauh di dalam. Sensasi di dua titik kenikmatanku, serasa melambungkan jiwaku. Aku mendesah, setengah terpekik.

Tak kalah agresifnya, aku berbuat hal yang sama. Kubanting dia, kemudian kurancap penisnya. Rasa jijik ketika menjilati penis yang sebelumnya ada, entah mengapa, dengannya justru berganti nikmat. Bagai kesetanan, berkali kugigit ujung penisnya, glands penisnya yang sudah berair kumainkan dengan ujung bibirku. Aku semakin bergairah, saat kulihat wajahnya yang memang tampan dan sangat jantan melukiskan berjuta rasa. Rasa antara nikmat, sakit, dan entah apalagi. Berkali mulutnya ternganga disertai desisan penuh kenikmatan, membuat aku ingin sekali melumat bibir itu. Namun aku lebih tertarik melumat penisnya. Tanganku meremas keras dua pelirnya. Dia terpekik, mulutnya masih menganga, mengimbangi sensasi yang dirasakannya, namun matanya terpejam.

Aku tak bisa menahan gairahku sendiri. Aku dekap erat dia. Aroma kelelakiannya menyebar dari tubuh kekarnya. Aku terbuai dan begitu gemas melihat reaksi yang diperlihatkannya. Begitupun dia. Kembali kami berpelukan erat. Tanganku masih bermain dengan penisnya, begitu juga dia. Kami sama-sama membisikkan kata yang semakin melambungkan gairah. Membisikkan kata terindah yang aku sendiri tidak tahu darimana datangnya.

"Oohh. Pakai seragammu, please!". Tiba-tiba aku sangat ingin melihatnya utuh sebagai polisi dengan seragam lengkap. Aku begitu ingin, seolah ada sensasi lain yang bisa kudapatkan.

Dengan berpelukan dan berciuman, dia menuntunku ke kamarnya. Seragam yang sekiranya akan dicuci, diambilnya dari tempat pakaian kotor. Dengan gairah yang masih tinggi, dia pakai seragamnya, komplet dengan sepatu, kecuali topinya, seperti yang kupinta.

Belum sepenuhnya selesai dia mengenakan seragamnya, aku sudah menubruknya. Kembali kami berpagutan, semakin panas, karena aku telah menemukan sensasi lain. Ahh, tubuhnya yang terbalut seragam penuh pesona itu benar-benar membuatku gila. Aku semakin agresif memagutnya serasa ingin melumat apapun yang dia miliki. Pantat, selangkangan dan apapun yang dia punya semakin membuatku melambung begitu dibalut seragamnya. Aku semakin gemas, mencengkeram apa pun yang ada padanya. Berkali dia mengaduh, namun tetap membiarkan aksiku.

Dengan paksa kubuka retsliting celananya. Aku benar-benar sudah tidak tahan. Kukeluarkan penis besarnya, berikut dua buah pelirnya. Sengaja kubiarkan tidak membuka celana panjangnya, karena aku ingin dia tetap dengan seragamnya. Semakin agresif aku mengunyah penisnya. Dua tanganku pun seolah tidak ingin melewatkan sensasi indah itu. Penis dan buah pelirnya yang menjulur dari retsliting celana coklat tua itu, membuatku kesetanan.

Dia mengamuk berat saat kupercepat aksi tanganku di penisnya. Aku dibanting ke bibir tempat tidurnya. Tubuhku terhempas ke kasur, sementara pahaku menjulur ke lantai. Penisnya yang keras, memerah dan panas, mencoba menusuk pantatku. Aku terpekik, saat berkali penisnya mencoba menusuk anusku. Tangannya berkali mengambil ludah dari mulutnya, dan dilumurkan ke anusku, berharap penisnya akan sedikit gampang masuknya. Namun tetap saja sulit, dan aku merasa kesakitan, karena inilah pertama kalinya anusku tersodomi. Aku memejam, begitu kurasakan dia memperlambat aksinya. Dengan lembut jarinya menusuk-nusuk anusku, mencoba mencarikan jalan untuk penisnya.

Kembali aku terpekik, saat glands penisnya mulai masuk ke anusku. Aku mengaduh, setengah mendesis. Berkali pula dia mendesis, sambil mengucapkan kata-kata indah, mencoba memberiku semangat. Gairahku semakin melambung, saat kulihat wajahnya yang mulai berkeringat, menegang. Mulutnya menganga dan mendesah saat penis yang menjulur dari retsliting seragamnya berjuang masuk ke anusku.

Kulumat jemarinya, saat dia telah berhasil memasukkan hampir semua penisnya. Aku benar-benar merasakan sensasi hebat, yang baru pertama kali kurasakan. Rasa mengganjal di anusku. Penisnya yang beraksi di anusku benar-benar memberikan pengalaman pertamaku, dan sebanding dengan kenikmatan yang didatangkannya. Pelan, dia maju-mundurkan pantatnya. Kami mendesis bersahutan. Tanganku beralih ke penisku. Kurancapnya semakin kencang. Aku benar-benar sudah tidak bisa menahan gairahku demi melihat wajahnya yang semakin tegang menghadirkan berjuta rasa. Kubiarkan sperma mulai memasuki ujung dalam penisku. Kurasakan sperma itu begitu kencang mengalir, memenuhi kantung spermaku.

Aku mempercepat aksiku. Rasa nikmat berganda di penis dan anusku, seolah melambung ke ubun-ubunku. Aku mulai mengejang kuat seiring dengan percepatan reaksi di penisku, dan akhirnya aku mengerang panjang saat spermaku mulai muncrat deras. Saking derasnya, sperma itu muncrat ke wajahnya. Refleks dia mendekapku erat, dengan penis masih menancap di anusku, mencoba memberikan semua birahinya.

"Hayoo, sayang! Ougghh!".

Dia membisikkan berbagai kata di telingaku, mencoba menambah gairahku. Penisku yang baru sekali memuntahkan sperma, berdenyut di baju seragamnya. Aku yakin, seragamnya akan belepotan spermaku seperti halnya wajahnya yang belepotan muncratan spermaku, karena saat dia dekap erat aku, aku masih merasakan kejang penisku memuntahkan spermanya. Tangannya mengurut penisku dengan kasar.

Belum habis sensasi yang kurasakan, dia melepas dekapannya. Wajahnya kulihat semakin tegang dan mengejang. Mulutnya ternganga, matanya berkejap-kejap. Desahan dan erangan berkali keluar dari mulutnya, saat dia mempercepat aksi penisnya di anusku.

Aku sangat menikmati saat dia berada di puncak gairah. Dengan seragam lengkap, wajah menegang, mulut menganga, mendesah. Mata berkejap-kejap, membuatku menemukan sensasi indah. Akhirnya dia meraung panjang, saat spermanya mulai muncrat. Dicabutnya penisnya dari anusku, dan ditempelkan di penisku. Spermanya yang panas, dan lengket kurasakan membasahi penisku yang setengah melemas. Kurancap kuat penisnya. Berkali dia mengerang panjang.

Tanganku masih mengurut penisnya, saat dia dengan erat dan mesra mendekapku. Bibirnya berkali mengecup keningku, dan aku pun membalasnya. Kuucapkan terima kasih, lirih. Dia pun mengatakan hal yang sama. Kami masih berpelukan erat, entah berapa lama.

Ternyata aku mulai menemukan sensasi indah yang semula kuanggap aneh. Aku mulai menikmati lekuk tubuh lelaki, yang semula masih bisa kutahan dengan melampiaskan gairah itu pada istriku. Aah..!