Saya, laki-laki, bekerja di Rumah
Sakit Persahabatan sebagai seorang perawat. Saya dan dokter Donny sudah lama
kenal, tetapi saya masih takut mengenal lebih jauh dan akrab, lantaran dia
atasanku langsung. Dr. Donny masih hidup bujangan, wajahnya tampan… mungkin
mirip Donny Damara aktor sinetron dan peragawan itu.
Saya sudah lama kagum
dengan penampilan dokter Donny, dan selalu berimaginasi bahwa dia itu seorang
gay, dan aku dengan senang hati mau melayaninya. Badannya tidak sekerempeng
aktor Donny Damara… malah sebaliknya, dia sangat fit, kekar dan penggemar serta
pemain basket cukup fanatik. Usianya sebaya dengan usiaku, sekitar 30-35 tahun.
Keahliannya sebagai internis
membawaku ikut memeriksa peserta cek medik tahunan yang terdiri atas pejabat
berbagai instansi pemerintah dan swasta cukup top… dan paling syurr bila
pejabatnya dari generasi muda, yaitu para eksekutif muda yang begitu fit, enak
dipandang dan berwajah rata-rata apik. Rumah Sakit Persahabatan memang cukup
terkenal melayani kegiatan itu. Saya paling suka bila diajak memeriksa rektum
alias anus para pasien. Dr. Donny dengan sarung tangan karet selalu
mengantarkan para pasien dengan gurauan ringan untuk menghindarkan rasa jengah
karena pasien harus mengangkang, bugil dan mengekspos silitnya untuk dicoblos
dengan jari telunjuk kanan atau kiri milik Dr. Donny yang cukup besar-besar.
Pernah, suatu saat, seorang pasien
masih lumayan muda, usia di bawah 40 tahun, berwajah cukup ganteng agak
gemetaran mengikuti tes rektum itu. Dia sungguh-sungguh tampak tersipu
mengangkangkan kakinya dan membiarkan kedua pasang mata kami melihat dari dekat
selangkangannya dan kontolnya yang aduhai besarnya dengan hiasan jembut yang
tebal dan menjambung ke perut dan dadanya yang indah kekar penuh bulu. Bahkan
jembut itu menutupi pula belahan bokongnya sehingga silitnya agak tersembunyi.
Pasien itu bernama Indra.
"Dok, saya malu…"
"Masak, nggak apa-apa. Cuma
sebentar kok. Pula tes ini penting untuk menge-tahui apakah ada gejala ambeyen
atau tidak pada anus Bapak," jawab Dr. Donny tenang.
"Tapi… apa tidak sakit. Dok
?" kilahnya lagi.
"Coba saja…. Hemmh, barangkali
malah…." seloroh Dr Donny.
Kata-kata itu begitu saja meluncur, membuat aku
yang tegang mengintip dari punggung Donny jadi tiba-tiba makin ngaceng.
Kontolku sudah ngaceng melihat Indra buka baju dan kemudian telentang, makin
ngaceng lagi ketika dia mulai mengangkang dan menampakkan kontolnya yang
rupanya juga sudah "agak" ngaceng atau memang besar dan agak kaku
dalam keadaan normal. Kini, terasa ada tetesan basah di ujung kepala kontolku
karena rangsangan seksual melihat adegan dan dialog gila ini.
"Coba ya Pak… Nama Bapak siapa
?"
"Indra nama saya. Nama Pak
Dokter ?"
"Ohh… saya Donny, dan ini
asistenku.. Rudy."
Kulihat Indra melirikku sekilas dan
memperlihatkan muka aneh, seperti sedang mengagumiku.
Saya tidak sedang lagi
menyombong nih, muka saya dan postur saya bagus, mirip Advent Bangun lah, dan
orang sering mengolok-olok saya dan Donny sebagai pasangan aktor di RS
Persahabatan.
Bangga sih memang bangga, diasosiasikan
dengan keaktoran di Indonesia yang notabene berarti cakep (Mana ada sih, aktor
Melayu yang jelek… pasti kaliber Indojerman, macam Barry Prima, Reynaldi,
Fathur, atau kalau cewek ya… Minati, Henny Purwonegoro, dan lain-lain.).
"Terasa sakit, Pak Indra
?" tanya dokter Donny ketika jari telunjuk dan ibu jarinya menyusupkan
tabung periksa berdiameter sekitar 1.5 cm ke dalam anus Indra. Tabung dari
stainless steel ini sudah barang tentu telah diberi lubrikasi vaselin agar
tidak membuat sakit berlebihan ketika dipenetrasikan ke dalam anus pasien.
Indra semula tampak takut dan
memejamkan mata. "Ahhh… enggak Dok," jawabnya.
"Rudy, tolong ambilkan handuk
di kamar kerjaku," tiba-tiba Dokter Donny meminta saya ke kamar sebelah.
Aku agak segan, tapi karena diperintah atasan yaa.. segera aku beranjak.
Padahal aku lagi tegang menyaksikan tes anus yang merangsang seksku. Aku
sebenarnya juga enggan, karena celanaku memang mulai basah…….
Dokter Donny kemudian berucap lagi,
" Pak Indra, segera akan saya korek bagian dalam rektum Bapak dengan
telunjuk saya… Ditahan ya, kalau ada rasa sakit."
Tiba-tiba saja, telunjuk kiri Donny
yang terbungkus sarung tangan sudah nyelonong memasuki lubang tabung yang sudah
membuka anus Indra, dan telunjuknya yang lebih panjang daripada tabung tes tadi
mulai diusapkan melingkar meraba-raba permukaan dalam silit Indra.
Indra tetap memejamkan mata dan dari
rasa (pura-pura) khawatir, kini dia merasakan adanya rangsangan aneh yang
menggelitik anus dalamnya oleh masuknya telunjuk Donny. Tanpa sadar Indra
melenguh pelan, "Uhhhh….hemmm."
"Ya, Pak Indra…. Apakah
sakit."
"Ahhhh… enggak…" jawabnya
pelan sambil melepas senyum berarti, yang tak akan mencurigakan bagi orang
biasa. Tapi di hadapan Donny, senyum itu tak bisa terlepas dari pengamatannya,
karena sejak tadi Donny memang sedang mengamati wajah Indra yang tampan yang
lagi indah memejamkan matanya…….…
Ya, Indra memiliki sebuah wajah tampan idaman
bagi Donny yang gila laki-laki, terutama yang sudah berusia matang alias
setengah umur tapi masih tampak muda dan kekar.
Tangan Donny makin berani, kini
bukan sekedar melakukan gerak usap melingkar, tetapi justru menyodok-nyodok ke
depan-belakang yang sebetulnya sudah merupakan penyimpangan prosedur dalam tes
ambeyen.
"Yahhhh…. Hemmmmmmmmmm,"
desah Indra makin nyata dan keras. Dan kontolnya yang semula hanya setengah
tegak kini betul-betul ereksi penuh tanpa dapat dibantah. Dokter Donny pun
tanggap; dengan sigap ditariknya telunjuknya yang bersarung karet itu dari anus
Indra dan segera pula tabung pembuka anus tadi dicabutnya cepat sampai berbunyi
"plupppp".
Indra segera melenguh panjang,
"Ohhhhhh…. Sayang!!" Ada segumpal perasaan kehilangan dari semula
merasa penuh terisi tabung dan telunjuk Donny, tiba-tiba terasa hampa begitu
saja.
"Apa yang disayangkan Pak
Indra…?"
"Dok…. Tadi enak…Ulang lagi
dong."
"Ahh, pak Indra bergurau
ya."
"Tidak Dok, aku serius
nih…"
Tiba-tiba saja tangan kiri Indra
menggapai ke arah selangkangan Donny dan merabanya dari luar baju jas
dokternya.
"Loh Pak Dokter…. anda… ?"
"Ya.. ya.. Pak
Indra…Saya…." Tergopoh Donny menjawab sekenanya untuk pertanyaan yang juga
tidak jelas arahnya tapi jelas maknanya. Memang kontol Donny sudah tidak tahan
berada dalam kungkungan celdalnya dan ngacengnya sudah begitu kentara
mendesakkan benjolan nyata di celana panjangnya, tetapi untunglah hal itu masih
dapat ditutupi dengan jas prakteknya.
Namun tangan kiri Indra akhirnya
berhasil mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi dengan kontol Donny.
"Dok… boleh aku…. Aku minta
sesuatu?"
"Katakan saja Pak Indra,
syukur-syukur saya bisa penuhi."
"Anu… bisa tes tadi diulang,
tetapi tanpa ring logam yang dingin itu ?"
"Maksud Bapak, cuma dengan jari
saya ?"
"Yaa… itu pun tanpa kaus tangan
karet yang bikin pedih itu. Bisa, kan ?"
"Ya, dengan senang hati
Pak."
Donny segera membuka sarung tangan karet dan kemudian memberikan
vaselin di sekujur jari telunjuk kirinya dan dia segera membungkuk ke arah
selangkangan Indra. Mulutnya dibuka dan bersamaan dengan masuknya jari telunjuk
kirinya ke dalam silit Indra, mulut Donny mengulum kontol Indra yang ngaceng
berat. Pada saat bersamaan, tangan kiri Indra meraba kontol Donny dan berusaha
membuka kancing risliting celana Donny. Donny diam saja membiarkan usaha Indra
menggapai kontolnya. Dan… berhasil!! Keluarlah kontol Donny yang 17 cm dan gede
yang sudah ngaceng penuh. Tangan Indra otomatik mengocok-kocok kontol itu
dengan lembut dan kadang membelai-belai kulit mahkota kepalanya, membuat Donny
berkali-kali menggelinjang dan memperseru isapan atas kontol Indra dan
mempertajam gerak maju mundur telunjuk kirinya yang mengentot silit Indra.
"Ahhhh…. Enak Dok, sungguh
enakkkkk …." Donny hanya bisa berkecepak-kecepuk, karena mulutnya penuh
dengan kontol Indra yang berdenyut-denyut siap menyiram langit-langit mulut
Donny. Tiba-tiba, suara Rudy yang lantang menggema di kesunyian. "Dok,
sudah saya cari-cari, handuk Dokter tidak kutemukan. Saya sudah cek ke kamar
periksa nomor 14 juga tidak ada." Donny sangat panik dan segera melepas
kuluman mulutnya pada kontol Indra dan jari tangannya pun dicabutnya dari silit
Indra. Donny cepat sekali merapikan jas kerjanya sehingga kontolnya yang
ngaceng segera lenyap tak nampak. Tapi justru Indra yang paling tidak berdaya,
karena kontolnya sudah hampir mencapai klimaksnya. Belum sempat dia berfikir
lain, lava kenikmatan putih menyemprot dari kontolnya dan membasahi sekujur
permukaan perutnya, diiringi desahan nafas lega, "Yahhhhh……
uhfffff…." Lenguhan itu menyertai semburan pejuhnya yang menyentak 5-6
kali denyutan.
"Ada apa nihhh… ?" tanya
Rudy.
"Pak Dokter…. ?" tanya
Rudy bingung sambil melirik Donny karena Donny tidak segera menjawabnya.
"Eh… eh…." Itu saja ucapan
yang keluar dari mulut Donny yang mukanya merah padam karena malu pada Rudy.
Justru saat itu Indra membuka mata dan menyapa Donny, "Makasih Dok,
kenyotan dan emutanmu enaaaak dehh!! Makasih berat nihhh"
"Ini… ini… Dokter, apa yang
terjadi ?" tanya Rudy. Donny terdiam, tetapi justru Indra yang menukas
lantang, "Pak Rudy, Anda mestinya senang dong, karena punya dokter cakep
di dekat Anda …… Aku malah sudah menjajal keahliannya, ternyata benar dia
adalah pengemut kontol paling pandai dehhh…"
"Huss…!" sergah Donny.
Tapi Indra terus nerocos. "Ahh, Donny…. Kita jujur saja… Dokter juga
merasa enak bukan, ketika kukocok tadi ?" Donny terdiam…
"Dan Pak Rudy, coba aja pegang
itunya Pak Donny… pasti masih ngaceng.." Rudy diam, Donny pun terdiam.
Tapi mata Rudy melirik ke selangkangan Donny. Di sana, di balik jasnya… masih
jelas tampak ada tenda (biru) menyembil tegar ….… Jelas pula, ada noda basah
dari mazi (pre-cum) kontol Donny yang menempel pada jas kerjanya.
"Pak… Pak Dokter… benar nih
?" tanya Rudy pelan pada Donny. Donny masih diam. Tapi mukanya kini
menghadap ke arah Rudy dan tangannya tiba-tiba menggapai pundak Rudy, lalu
segera mukanya didekatkan ke muka Rudy dan… dalam beberapa milidetik, keduanya
sudah tenggelam dalam ciuman french yang begitu dalam dan mesra. Tangan mereka
saling mengusap dada, lidah mereka saling berpagut, dan tangan mereka akhirnya menggerayangi
selangkangan pihak lawannya, dan Rudy membuktikan bahwa kontol Donny memang
masih sangat ngaceng dan kiranya sedang menanti isapannya.
"Ehhmmm…." Sayang Indra
mendeham, memecah keheningan penuh nafsu dari dokter dan asistennya yang lagi
asyik masyuk merasakan suasana surgawi beberapa menit. Mendengar deheman Indra
itu, keduanya baru tersadar dan berupaya memperbaiki sikap mereka dan menjadi
profesional lagi.
"Baik, Rudy, tolong bersihkan
noda kotoran di perut Pak Indra dengan napkin kertas di samping jendela. Dan
Pak Indra, tugas saya selesai sudah, silahkan Bapak berbaju lagi dan melakukan
tes di kamar lain… Barangkali pas untuk periksa ECG sekarang.." kata Donny
sambil bergerak ke wastafel, mencuci tangannya yang baru dipakai untuk mengentot
silit Indra dan mengusap dada dan selangkangan Indra. Usai itu, dia
meninggalkan Indra yang masih bugil dengan membuang pandangan mesra ke arah
Indra dan mencolek kontol Rudy yang lagi terpana di samping Indra.
"Pak Rudy, tolong ambilkan baju
piyama saya bisa ?"
"Ohh… ya pak, dengan senang
hati," sahut Rudy.
"Bisa saya bentu kenakan, Pak
Indra ?"
"Ohhh… dengan senang
hati."
Sambil memakaikan piyama Indra, Rudy
berupaya menanyakan pada Indra, apa yang telah terjadi selama dia disuruh
mengambil handuk. Indra tidak menjawab, tetapi melingkarkan pelukannya pada
tubuh Rudy yang gempal dan berotot dan mereka pun segera tenggelam dalam ciuman
mesra nan panjang….
Sejak itu, ketiga orang itu sering
saling kunjung untuk menjajal kedigdayaan mereka secara sebenarnya di ranjang.
Bahkan program three in one yang hendak dihapuskan dari bumi DKI Jaya, oleh
mereka justru merupakan menu paling favorit untuk senantiasa dipraktekkan.